• Mon. Jun 21st, 2021

Metode Sentra

Membangun Karakter dan Budi Pekerti

PAUD: Inti Pendidikan Dasar yang Tersisih

ByYanto Musthofa

Mar 9, 2021
Anak usia dini belajar melalui bermain

PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini adalah inti dari pondasi pendidikan. Setiap unsur pemangku kepentingan pendidikan, terutama orangtua murid usia dini, selayaknya tidak sekadar menempatkan PAUD sebagai bagian dari pendidikan. Lebih dari itu, PAUD adalah sokoguru pendidikan, yang akan menentukan seperti apa kualitas pendidikan pada jenjang-jenjang berikutnya. Sebab, bagian terbesar dan terpenting dari elemen-elemen dasar bekal kehidupan seseorang tumbuh dan hanya tumbuh pada periode usia dini.

Berdasarkan hasil-hasil kajian yang sudah mapan di bidang pedagogi dan ilmu-ilmu lain yang terkait, PAUD seyogyanya adalah unsur pertama yang diperhitungkan dalam percaturan pendidikan dasar, yang akan menentukan masa depan bangsa. Bukan sekadar persiapan (apalagi sekadar pengisi waktu) untuk memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD), PAUD bersentuhan dengan proses tumbuhnya bagian-bagian fundamental dari bekal kehidupan yang dibutuhkan untuk menjalani pendidikan di SD, pendidikan di SMP,pendidikan di SMA, bahkan pendidikan dalam periode dewasa.

Gambarannya begini: seorang anak kelas VI SD mengalami kesulitan menggunakan penggaris untuk menggambar bangun geometri. Bisakah keterampilan itu dilatih dan perbaiki sehingga anak tidak kesulitan? Bisa. Namun, ada proses pembangunan kemampuan koordinasi otot motorik halus dan kasar yang tak terisi pada periode usia dini yang menyebabkan pelatihan atau perbaikan itu tidak optimal.

Seorang anak kelas duabelas atau III SMA “divonis” sebagai anak pemalu dan tidak percaya diri bahkan untuk berbicara dan menyatakan pendapat di hadapan orangtuanya, bahkan di depan teman-temannya dalam situasi informal. Bisakah rasa percaya diri itu ditingkatkan sehingga anak tak menjadi pemalu lagi? Bisa. Masalahnya, ada lini-lini tertentu di lingkup afeksi yang pertumbuhannya terhambat pada periode usia dini, sehingga langkah-langkah perbaikan yang dilakukan tidak optimal.

Seorang mahasiswa langsung mulas perutnya begitu mendapat tugas yang mengandung hitung-hitungan angka, karena dia sudah memvonis diri “alergi dengan pelajaran matematika.” Bisakah mahasiswa itu diajari sehingga “alergi matematika”-nya sembuh? Bisa. Tapi, ada tahapan-tahapan dalam proses belajar numerasi yang terlewatkan pada periode usia dini, yang akan terus menghantuinya setiap kali berusuan dengan hitungan angka, dan yang pada tingkat tertentu memengaruhi derajat kemampuan berpikir nalarnya.

Seorang suami kerap membuat cemberut sang istri karena kebiasaannya mengambil baju bersih di lemari menyebabkan tumpukan yang rapi bergoyang ke kiri-kanan seperti pinggul ratu dangdut. Bisakah istri mengajari sang suami cara menyusun rapi baju di lemari? Bisa. Tapi percayalah, ada lubang-lubang tertentu pada kapasitas kemampuan spasial suami, kamampuan motoriknya,  dan bahkan bagian dari afeksinya, yang terlanjur tak terisi pada periode usia dini, yang akan membuat penataran sang istri membentur pada kenyataan-kenyatan yang tak diinginkan.

Kegiatan di Sentar Main Peran
KEGIATAN DI SENTRA MAIN PERAN. Keterampilan sosial, kemampuan berbahasa, kemampuan kognisi dibangun sekaligus dalam kegiatan bermain.

Ilustrasi-ilustrasi di atas mungkin terkesan terlalu simplistis, atau terlalu menyederhanakan, dalam rangka menunjukkan krusialnya PAUD pada bidang luas pendidikan. Bagaimanapun, hasil-hasil kajian yang sudah mapan di bidang pedagogi dan ilmu-ilmu terkait menunjukkan bahwa jargon “Usia Emas” itu bukan mengada-ada. Seperti ungkapan terkenal esais Robert Fulghum, “All I Really Need to Know I Learned in the Kindergarten” [Semua hal yang benar-benar harus kuketahui, kupelajari saat TK],  rentang kesempatan untuk membangun banyak bagian dari bekal dasar kehidupan itu hanya ada pada periode usia dini.

Bagian-bagian inti dari bekal dasar kehidupan itu meliputi antara lain pembangunan kemampuan motorik kasar dan motorik halus (psychomotoric development), kemampuan berbahasa (language acquisition), kemampuan klasifikasi, literasi-numerasi dan bernalar kritis (cognitive skills), kemampuan bekerja runtut dan tuntas melalui latihan-latihan prosedur bermain (learning through plays), dan pembangunan sikap serta keterampilan sosial (social skills). [Untuk pembahasan lebih lanjut, silakan klik link artikel untuk tiap-tiap bagian tersebut]. Secara sekilas aspek-aspek yang berproses dalam PAUD akan dibahas pada bagian lain tulisan ini.

Definisi PAUD

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan PAUD pada tataran formal? Mari kita urai sehelai demi sehelai. Pertama, kita bertolak dari definisi PAUD. Menurut Pasal 1 Ayat 14 UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, definisi PAUD adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak-anak sejak lahir sampai usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rancangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Definisi itu harus dibaca dalam kerangka definisi induknya, yaitu definisi pendidikan pada Pasal 1 ayat 1 UU Sisdiknas 2003: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Kedua definisi itu memuat unsur-unsur dasar sebagai berikut:

  1. Usaha sadar dan terencana dari orang dewasa untuk memfasilitasi anak atau peserta didik
  2. Anak atau peserta didik belajar secara aktif agar tumbuh atau membangun potensi diri
  3. Tujuan meraih bekal kehidupan (life skills) agar berguna bagi diri, masyarakat, bangsa dan negara.

Sampai pada titik ini, anggaplah bahwa PAUD adalah bagian sah dari struktur pendidikan nasional, bagian dari usaha negara secara sadar dan terencana dalam menyiapkan generasi masa depan bangsa. PAUD diakui penting sehingga disebutkan dalam UU Sisdiknas. Dari waktu ke waktu, perhatian negara pada PAUD juga meningkat, antara lain dengan berbagai bentuk dukungan untuk meningkatkan mutu, seperti penganggaran, penyediaan panduan, pelatihan guru, bimbingan teknis bagi penyelenggara, penyediaan materi sekaligus inovasi kurikulum dan lain-lain.

Juga yang “agak baru”, ada SEB (Surat Edaran Bersama) Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan Nomor 2-375/MK.02/2020 dan B.308/PPN/D.8/PP.04.03/2020.  Apanya yang menarik? Melalui SEB tersebut pemerintah meredesain sistem perencanaan penganggaran Kemdikbud. Sistem penganggaran Kemdikbud direncanakan untuk membiayai dukungan manajemen, PAUD dan Wajib Belajar 12 Tahun, peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran, pemajuan dan pelestarian bahasa dan kebudayaan, pendidikan tinggi, serta pendidikan dan pelatihan vokasi. Ini isyarat kemauan politik yang tegas bahwa PAUD itu “sesuatu” dalam sistem pendidikan nasional.

Tapi, Ibu-ibu, Bapak-Bapak dan Saudara-saudara, ada kenyataan yang harus diterima dalam desain pendidikan nasional yang terkait dengan PAUD, yaitu bahwa PAUD bukanlah bagian dari pendidikan dasar. Pendidikan Dasar dalam UU Sisdiknas Tahun 2003 dimulai dari tingkat SD atau yang sederajat sampai dengan SMP atau yang sederajat. Bahkan, PAUD tidak termasuk dalam nmenklatur pendidikan formal. (BAB VI, JALUR, JENJANG DAN JENIS PENDIDIKAN, Pasal 13 sampai dengan Pasal 17 UU Sisdiknas Tahun 2003).

Jangan-jangan itu pula yang membuat negara tak enak hati, sehingga merasa perlu membuat SEB untuk menunjukkan bahwa “PAUD itu diperhatikan oleh negara, lho”. PAUD memang diakui, tapi tidak didefinisikan sebagai kegiatan formal.

Itu barulah fakta dari segi definisi, yang tentu saja akan berdampak pada segi-segi perlakuan, perhatian tindakan dan kebijakan. Contoh bagimana besarnya dampak kesetengah-hatian definisi itu adalah sejak tahun 2012, penghimpunan data Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) PAUD tidak lagi konsisten memasukkan rentang usia 0 sampai 3 tahun sebagaimana definisi UU Sisdiknas. APK dan APM yang diperhitungkan hanyalah usia 3 sampai 6 tahun.

Sedihnya, walaupun sudah didiskon dengan mengeluarkan kelompok usia 0 sampai 3 tahun, APK rata-rata nasional tidak serta merta meroket. Tetap santuy di angka 41 persen. Hanya beberapa provinsi saja yang mencapai APK PAUD di atas 50 persen, dan itu tidak termasuk Daerah Khusus Ibukota yang kaya raya.

Dari sekitar 19,1 juta anak Indonesia yang berusia antara 3 sampai 6 tahun, 7,87 juta di antaranya menjadi siswa PAUD. Dengan jumlah itu, Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD adalah 41,18% [Cut-off Data Pokok Pendidikan (Dapodik 2019-2020) menurut Pusat Data dan Informasi Sekretariat Jenderal Kemdikbud.]

Sabar. Iya, sabar. Saya juga bertanya-tanya soal itu: apakah benar bahwa anak-anak Indonesia pada rentang usia 0 sampai tiga tahun dilepaskan dari kewajiban negara untuk melakukan “usaha  sadar dan terencana” itu? Jika demikian, maka sebaiknya para orangtua anak usia dini sebagai pemangku kepentingan utama berpikir lebih jauh dari definisi negara tersebut. Sebab, periode usia 0 sampai 3 tahun justru sebetulnya adalah “daging” dan esensi dari pendidikan sepanjang hayat.

Benar, periode itu berada dalam domain keluarga. Tapi, negara seharusnya tetap hadir dengan penuh kasih sayang untuk memastikan perode krusial kehidupan anak itu terlalui  secara “sengaja”, terencana, terprogram, dan berkualitas. Caranya, ya berkolaborasi dengan aparatur pemerintahan hingga unit terkecil, masyarakat, dan tentu saja orangtua. Banyak contohnya di negara-negara lain (diulas pada bagian lain dari tulisan ini).

Negara sudah seharusnya erat bekerja sama dengan orangtua dan masyarakat dalam memastikan setiap anak usia dini mendapatkan haknya untuk mendapatkan program-program pendidikan prasekolah yang berkualitas. Sekali lagi, isyarat kemauan politik terhadap PAUD itu tidaklah cukup. Harus terus dikawal dan didesakkan dengan penuh kesabaran agar di suatu masa nanti (entah kapan) kemauan politik itu menghasilkan realitas yang lebih bermakna.  Sebab dalam realitasnya, jenjang pendidikan yang seharusnya menjadi inti dari pondasi pendidikan belum tersentuh esensinya oleh negara, baik secara kuantitatif maupun (apalagi) kualitatif.

Jika ingin tetap pada jalur definisi negara tentang PAUD, silakan. Tapi, mungkin pembahasan-pembahasan selanjutnya dalam tulisan ini menjadi tidak relevan.

Tujuan PAUD

Tujuan PAUD adalah membangun bekal kehidupan melalui proses pembekalan yang hanya berlangsung pada periode usia dini, alias tidak bersifat retroaktif. Dalam penjelasan ini ada dua bagian penting: bekal kehidupan dan periode proses pembekalan.Bekal kehidupan itu artinya bekal untuk segenap perjalanan kehidupan, bukan sekadar persiapan untuk masuk jenjang SD, apalagi direduksi menjadi hanya pengajaran baca-tulis-hitung (calistung).

Ada berderet-deret lini bekal kehidupan (baca: domain) yang berproses secara simultan pada periode usia dini. Proses tumbuh-kembang itu terus berjalan dengan atau tanpa “pendidikan yang secara sengaja”, baik di rumah, di lingkungan keluarga, di lingkungan bermain maupun ekosistem pembelajaran PAUD formal. Sekali lagi, dengan atau tanpa “pendidikan formal”, pada periode krusial kehidupan itu, anak menjalani proses belajar untuk hal-hal yang paling krusial  bagi kehidupannya di kemudian hari. Pada periode inilah otot-otot kehidupan dasar dibangun dan akan menentukan seperti apa struktur daya belajar anak di kemudian hari.

Jika tidak ada orangtua yang bersungguh-sungguh menjalankan peran sebagai “madrasah –pertama” baginya, atau PAUD yang sengaja merencanakan dan memberi program belajar secara sengaja, anak tetap belajar dengan banyak guru alternatif di sekitarnya. Guru itu bisa teman sepermainan, stimulus tetangga, televisi, Youtube,…. apa saja yang bisa diakses anak untuk belajar. Jika rela seperti itu, ya, silakan.

Jadi, inti tujuan PAUD adalah mengantarkan anak menjalani segenap proses pada periode krusial tersebut (0 sampai 6 tahun) dengan “kesadaran dan kesengajaan” program yang berisi asupan-asupan ‘bergizi’ untuk menumbuhkan otot-otot dasar kehidupan secara optimal, lancar dan sehat. Karena itu, setiap orangtua atau calon orangtua perlu “kepo” sejak awal (kalau perlu, sebelum merundingkan bersama soal biaya resepsi pernikahan, pembelian rumah dan mobil), apa sih proses-proses yang berlangsung pada krusial itu.

Isi PAUD

Bagaimana cara mencapai tujuan itu? Yang pertama-tama, tentu saja, adalah mengidentifikasi apa saja bagian-bagian yang berproses dalam rentang usia PAUD berdasarkan hasil-hasil kajian yang mapan di bidang psikologi perkembangan. Dalam era kemudahan informasi berkat arus deras kemajuan teknologi, mungkin banyak orang bingung memastikan mana yang mesti dijadikan pegangan. Sebab, pencarian Google, misalnya dengan kata kunci komponen PAUD atau early childhood education, akan banyak sekali muncul pengetahuan dalam format instan tentang komponen PAUD yang berbeda-beda. Karena itu, kata kunci pencarian lebih aman bila diarahkan ke  materi tahap-tahap perkembangan anak, atau apa dan bagaimana proses pembelajaran yang terjadi pada anak usia dini.

Sajian pengetahuan manapun yang dirujuk, pastikan bahwa kompnen-komponen yang disebutkan itu berbasis kajian yang shahih tentang tahap-tahap perkembangan anak, bukan karena daya tarik kepantasan berdasarkan ilmu cocoklogi. Sekadar contoh, sudah banyak kajian yang mengonfirmasi dampak negatif kegiatan mewarnai gambar pada sejumlah aspek tumbuh-kembang anak usia dini, tapi tak surut arus pengadaan kegiatan mewarnai untuk anak PAUD. Alasannya, anak suka dan bisa. Contoh lain, karena guru di SD tertentu mensyaratkan anak kelas 1 sudah bisa membaca, menulis dan berhitung, maka, biar bisa diterima di sana, anak harus diberi menu belajar keaksaraan (drill) yang lepas dari proses pembangunan kemampuan lain yang menjadi prasyaratnya, seperti kemampuan otot motorik kasar dan halus, kemampuan klasifikasi warna-bentuk-ukuran, kemampuan berbahasa (reseptif dan ekspresif), dan seterusnya.

Penyajian oleh National Association for the Education of Young Children, salah satu lembaga riset dan penerbitan yang kredibel dalam masalah pendidikan anak usia dini, di bawah ini bisa menjadi rujukan untuk memahami apa saja seyogyanya isi PAUD.  Sajian ringkas itu tertuang dengan judul What Do Children Learn in a High-Quality Preschool Program? (https://www.naeyc.org/our-work/families/what-do-children-learn-preschool-program (diakses 5 Maret 2021).

Ada lima bidang dasar perkembangan anak usia dini yang membutuhkan dukungan dari orangtua dan guru, menurut NAEYC, yaitu perkembangan fisik, perkembangan sosial, perkembangan emosional, perkembangan kebahasaan dan literasi, serta kemampuan nalar atau kognisi. Kelima domain perkembangan ini bisa dikatakan telah disepakati lintas mazhab teori pedagogi. Perbedaannya adalah pada rincian isi dan strategi penerapan dukungannya. Apapun mazhab pedagogi yang dianut, pastikan bahwa rincian isi dan strategi penerapan dukungan itu sesuai dengan tahap perkembangan (developmentally approriate practices).

Dalam hal ini, Metode Sentra mengalirkan dukungan terhadap bidang-bidang perkembangan itu melalui model pembelajaran yang terintegrasi. Domain fisik terlayani dengan kegiatan-kegiatan belajar melalui bermain dalam tiga jenis main. Pada saat yang sama kegiatan bermain yang terklasifikasi dalam Sentra-Sentra juga membangun kemampuan sosial, bahasa, literasi, numerasi, emosional, dan daya nalar sekaligus. Penjelasan lebih lanjut silakan baca artikel: 5 Hal Pokok dalam Pendidikan Anak Usia Dini.

Mari kembali pada sajian NAEYC. Aspek-aspek perkembangan yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan PAUD adalah:

Perkembangan Fisik

Perkembangan fisik adalah tentang bagimana anak menggerakkan lengan dan kaki (kemampuan motorik besar) dan jari serta tangan (kemampuan motorik kecil). Guru membangu anak belajar keterampilan-keterampilan ini dengan bermacam-macam aktivitas, alat dan bahan. Anak berlari, melompat, memanjat, melempar, dan menangkap. Dengan menggunakan tangan, mereka mengeksplorasi bahan-bahan seperti cat, playdough, puzzle, pasir, dan benda-benda untuk menulis. Dengan menggunakan tubuh secara aktif di dalam ruangan maupun di luar ruangan, anak membangun tulang-tulang dan otot-otot yang sehat.

Perkembangan Sosial

Dukungan dalam aspek perkembangan sosial bertujuan membantu anak agar bisa berinteraksi dengan orang lain. Bersama guru anak belajar menghormati orang lain dan bekerja sama dengan orang lain. Dengan bermain dan belajar bersama, anak membangun keterampilan sosial, pengendalian diri, dan juga bahasa. Dengan dukungan guru, anak belajar melakukan resolusi konflik yang bisa muncul saat bermain.

Perkembangan Emosional

Dukungan pada aspek perkembangan emosional bertujuan membantu anak memahami perasaannya sendiri dan perasaan orang lain. Guru membantu anak mengenali dan mengelola perasaan dan perilaku mereka sendiri. Guru juga mengajarkan kepada anak untuk peduli pada orang lain. Dalam rangka membangun rasa percaya diri, guru mendorong anak untuk mencoba hal-hal baru dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sulit.

Perkembangan Bahasa dan Literasi

Dukungan yang dibutuhkan pada bidang perkembangan bahasa dan literasi adalah membantu anak memahami dan berkomunikasi melalui pendengaran, bicara, membaca dan menulis. Semua keterampilan ini terkait. Selain itu, guru membantu anak menggunakan kemampuan berkomunikasi yang sudah tumbuh untuk mempelajari konsep-konsep baru.

Perkembangan Kognitif

Kemampuan berpikir berkembang ketika anak memikirkan hal-hal yang lebih rumit, membuat keputusan dan memecahkan masalah. Saat anak bereksplorasi, bertanya, dan menciptakan sesuatu, mereka memperbaiki kemampuan berpikirnya. Melaui refleksi dan penggunaan informasi yang sudah didapatnya anak memahami dunia di sekelilingnya. Cara anak belajar juga menjadi bagian penting dari kemampuan berpikirnya. Misalnya, dengan mampu fokus atau dapat mengatasi rasa frustrasi, anak bisa belajar lebih mudah.

Kebijakan PAUD di Beberapa Negara

Sekarang mari kita menengok kebijakan dan wajah PAUD di beberapa negara. Dalam hal ini dipilih beberapa negara maju. Mengapa tidak Amerika Serikat (AS)? Sebagai negara federal yang sangat besar, AS tidak memiliki kebijakan tunggal menyangkut PAUD. Karena itu, agak sulit untuk memungut salah satunya sebagai representasi gambaran umum kebijakan PAUD di AS.

Finlandia

Mottonya adalah semua anak berhak mendapatkan ECEC. Apa itu? Early Childhood Education and Care. Sederhananya, setiap anak Finlandia berhak mendapatkan pendidikan usia dini. Di negeri Skandinavia yang prestasinya di bidang pendidikan kerap menjadi buah bibir ini, PAUD didefinisikan sebagai entitas pendidikan yang terencana dan berorientasi tujuan, membesarkan dan merawat, dengan penekanan pada pedagogi.

Begitu istimewanya PAUD, maka dalam UU yang berlaku saat ini (UU Tahun 2018),  ada tiga opsi yang bisa dipilih orangtua setelah cuti pengasuhan,yaitu ketika anak biasa mencapai usia sembilan atau sepuluh bulan. Ketiga opsi itu adalah:

  • Layanan PAUD Pemerintahan Daerah (setingkat Kabupaten)
  • Layanan PAUD Swasta atau perawatan anak dengan dana pribadi
  • Tinggal di rumah dalam cuti pengasuhan bertunjangan sampai anak terkecil mencapai usia tiga tahun.

PAUD Daerah merupakan bentuk utama layanan pendidikan anak usia dini dari usia 0 tahun sampai awal usia sekolah 7 tahun. Bentuk lain layanan PAUD antara lain layanan penitipan anak (Day Care) dan aneka klub dan kelompok aktivitas terbuka yang diorganisasi oleh pemerintah daerah, gereja lokal dan organisasi nonpemerintah.

Jerman

PAUD di Jerman mencakup semua institusi yang diselenggarakan oleh negara maupun masyarakat untuk anak-anak usia 0 sampai awal masuk sekolah. Secara tradisional, anak di bawah usia tiga tahun diasuh dalam Kinderkrippen dan anak-anak usia tiga tahun ke atas masuk Kindergarten.

Dalam beberapa tahun terakhir, profil institusi penitipan anak berubah sangat signifikan. Jumlah fasilitas yang melayani khusus anak usia tiga tahun menurun drastis, sedangkan fasilitas untuk usia campuran semakin banyak. Salah satu penyebabnya adalah bertambah banyaknya tempat penitipan anak yang disetujui lembaga Federal, Länder, untuk usia di bawah tiga tahun.

Pijakan Awal di Sentra Persiapan
Banyak lini perkembangan anak yang harus didukung dalam periode PAUD, bukan sekadar pengajaran baca-tulis-hitung..

Undang-Undang Keamanan Sosial (Achtes Buch Sozialgesetzhbuch –Kinder-und Jugendhilfe) menyerukan pendirian tempat-tempat penitipan anak dan layanan pengasuhan anak dengan harapan perkembangan anak berada di tangan anggota masyarakat yang bertanggungjawab. Lebih dari itu, tempat penitipan anak memang dirancang untuk mendukung dan membantu para orangtua yang harus menyelaraskan antara kebutuhan mengasuh anak dan pekerjaan.

Prancis

PAUD di Prancis adalah gabungan dua model dari otoritas dua otoritas yang berbeda. Yang pertama, lembaga penitipan anak usia di bawah dua ataun tiga tahun yang diatur oleh Kementerian Solidaritas dan Kesehatan. Yang kedua, Taman Kanak-kanak untuk usia dua atau tiga tahun sampai dengan enam tahun yang berada di bawah pengawasan Kementerian Pendidikan Nasional.

Peraturan dasarnya, anak-anak usia tiga tahun bisa dierima di PAUD hingga mencapai usia enam tahun. Sedangkan anak usia dua tahun bisa diterima, asalkan tempatnya memang tersedia. Berdasarkan UU yang disahkan pada 26 Juli 2019, usia tiga tahun masuk dalam periode wajib belajar. Meskipun demikian, para orangtua boleh memilih PAUD formal atau home-schooling di bawah supervisi pejabat pemerintah.

Penutup

Tulisan ini tidak berpretensi untuk mengajak pembaca mengagung-agungkan negara-negara ditampilkan di atas dalam urusan PAUD dan kemudian menjiplak kebijakan-kebijakannya, bahkan bentuk aplikasinya. Tidak. Penyertaan contoh kebijakan tiga negara di atas hanyalah untuk menghadirkan perspektif lebih luas tentang betapa pentingnya PAUD dalam keseluruhan pembangunan bangsa.

Sekali lagi, PAUD bukanlah sekadar pemanasan bagi anak sebelum memasuki jenjang sekolah. PAUD adalah entitas pendidikan yang (kalau tak boleh dibilang lebih tinggi derajat krusialnya) setara dengan jenjang-jenjang sesudahnya. Karena itu, jangan pula menyelaraskan isi PAUD dengan kekonyolan persekolahan dasar sampai menengah yang disetir untuk menghasilkan anak-anak terampil mengerjakan soal ujian.

Ayolah, jangan habiskan waktu anak Indonesia untuk mengasah keterampilan mengerjakan soal-soal ujian, dan berbaku-saing dengan para juara olimpiade matematika atau sains lewat ujian-ujian yang seragam. Bahkan, sesungguhnya anak-anak yang dipilih untuk memperjuangkan reputasi nama harum sekolah, kepala dinas, bupati, gubernur melalui ajang-ajang perlombaan yang melelahkan itu juga membutuhkan pertumbuhan lini-lini lain dalam bekal hidupnya.

Lagi pula, tak banyak (kalau bukan tak ada) institusi-institusi yang kelak menanyakan keterampilan lomba mengerjakan soal ujian itu saat mempertimbangkan menerima atau tidak sang juara sebagai calon pegawai, karyawan atau pekerja. Jadi, jangan reduksi PAUD  agar selaras dengan persekolahan yang serba persaingan angka nilai hasil ujian. Indonesia membutuhkan PAUD yang utuh, lengkap dan mendasar. Sebab sejatinya, PAUD bukan hanya bagian dari pendidikan dasar, tapi justru inti dari pendidikan dasar.

4 thoughts on “PAUD: Inti Pendidikan Dasar yang Tersisih”
  1. Sekali lagi sungguh saya terkejut sekaligus tersadar makjleb (kata orang Jawa) membaca Artikel ini. Boleh saya tahu artikel yang membahas tentang mewarnai gambar untuk anak usia dini berdampak negatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *