• Wed. May 12th, 2021

Metode Sentra

Membangun Karakter dan Budi Pekerti

Empat skenario masa depan sekolah menurut OECD

Disrupsi Pandemi COVID-19 dan Kemajuan Teknologi Informasi

Kebiasaan-kebiasaan dalam penerapan Metode Sentra membantu para guru Sekolah Batutis Al-Ilmi menyiasati keadaan di masa pandemi.

Gelombang pandemi global COVID-19 dalam waktu hampir satu tahun ini terjadi di tengah arus deras kemajuan teknologi informasi. Bagi dunia pendidikan, kedua hal tersebut mendatangkan, pertama-tama tentu saja,  guncangan dan gejolak. Atau dalam istilah kekiniannya, disrupsi. Kemapanan aneka praktik sistemik dalam kegiatan belajar-mengajar dipaksa menyesuaikan diri dengan berbagai risiko yang tak mudah dihadapi, namun berdampak besar bagi masa depan pendidikan.

Semua pemangku kepentingan merasakan. Otoritas pendidikan, penyelenggara sekolah, guru, orangtua dan terutama anak, harus membiasakan diri dengan pengalaman-pengalaman baru, tantangan-tantangan baru, kebiasaan-kebiasaan baru, atau normalitas baru.

Yang dominan dari segala hal yang baru tadi tentu saja adalah keterbatasan. Sebab, semua tiba-tiba seakan-akan bangun dari tidur di pagi yang asing. Semua masuk ke dalam situasi yang tidak terprediksi, di luar ekspektasi, tak direncanakan,  dan karena itu tak dipersiapkan. Tapi, hidup harus terus berjalan, dan pendidikan sebagai laku niscaya untuk kehidupan masa depan pun harus demikian. Terus berjalan.

Bagi guru, wujud keterbatasan itu (yang sekaligus berarti tuntutan untuk segera menemukan solusinya) banyak sekali. Dari kebiasaan interaksi pembelajaran secara langsung, guru harus segera membekali diri dengan keterampilan interaksi jarak jauh. Ikatan emosional (emotional bonding) yang biasanya bisa dibangun melalui tatap wajah dan interaksi suara langsung, harus dialirkan melalui sarana komunikasi telepon, video-call, paparan audio-visual yang tidak interaktif, atau bahkan hanya melalui materi tertulis yang dikirim email atau WA. Jelas, banyak sekali pengaruh dari keterbatasan-keterbatasan itu.

Berkah dan Tantangan Teknologi

Disrupsi adalah satu hal. Tapi, kemudahan-kemudahan yang disediakan oleh kemajuan teknologi informasi jelas sangat membantu. Walau tak sepenuhnya bisa menjadi substitusi yang “ideal” dalam ukuran pra-pandemi bagi kelas tatap-muka, terwujudnya kelas-kelas daring bagaimanapun adalah katup pengaman yang tak terkirakan nilainya.

Kekurangan sudah pasti ada. Guru masih kagok, pembelajaran tidak optimal, atau murid cepat bosan dan lelah, orangtua panik, keterbatasan akses internet dan lain-lain. Itu semua harus dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dalam musim disrupsi ini. Bayangkan segala keterpaksaan ini terjadi ketika sarana komunikasi masih bergantung pada warung-warung telekomunikasi yang hanya menyediakan diskon di waktu pagi buta.

Nah, kemajuan teknologi informasi ternyata tidak hanya mendatangkan kemudahan bagi dunia pendidikan, khususnya bagi guru dan orangtua. Kemajuan teknologi informasi juga membawa tuntutan dan tantangan yang melekat. Guru dan orangtua harus semakin giat mengasah kemampuannya dalam memanfaatkan teknologi informasi.  Sebab, dengan atau tanpa pandemi, kemajuan teknologi meniscayakan disrupsi-disrupsi baru yang tak mudah diprediksi atau bahkan tak terprediksi bagi dunia pendidikan.

Kira-kira pertengahan tahun 2020, penulis artikel ini kebetulan menerjemahkan buku berjudul The Future After Covid (Masa Depan Dunia Sesudah COVID). Buku itu ditulis oleh Jason Schenker, seorang futurolog dari Amerika Serikat. Edisi terjemahannya diterbitkan oleh Penerbit Alvabet sekitar dua bulan yang lalu. Dalam buku itu, Schenker memaparkan prediksi berbagai bidang kehidupan yang mau tidak mau, suka-tidak suka, akan dipaksa berubah oleh kemajuan teknologi informasi. Untuk menyebut sebagian, bidang-bidang itu adalah masa depan politik, masa depan ekonomi, masa depan, masa depan energi, masa depan pekerjaan dan jenis-jenis pekerja… serta tentu saja, masa depan pendidikan.

Dalam satu para paragraf super pendek, hanya satu kalimat, Schenker mengawali ulasannya tentang masa depan pendidikan dengan maklumat: Masa depan pendidikan adalah daring!

“Saya sudah memegang ekspektasi ini di masa lalu, dan ini salah satu yang secara profesional saya yakini dan terus saya pegang teguh. Dalam buku saya tahun 2017, Jobs for Robots, saya membahas bagaimana pendidikan daring memiliki peluang untuk memperbaiki masyarakat –dan bagaimana pendidikan menjadi alat terbesar yang dimiliki manusia untuk tetap berguna dalam dunia dengan otomatisasi yang terus bertambah.”

Masa Depan Dunia Setelah COVID-19, karya Jason Schenker

Begitu kata Schenker. Sebetulnya, dia menambahkan, peningkatan tren pendidikan daring sudah cukup lama menghimpun energi, dan kini COVID-19 telah memaksa secara esensial semua pembelajar keluar dari ruang kelas dan masuk daring. “Ini terjadi di semua level pendidikan –sekolah dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi, profesional, sertifikat dan informal.”

Seperti Apakah Masa Depan Sekolah?

Selain prediksi Schenker, ada satu buku yang juga menarik untuk disimak, yang secara khusus membahas tentang masa depan pendidikan. Judulnya, Back to the Future of Education, Four OECD Scenarios for Schoolings. Sebagaimana terlihat dari judulnya, buku ini diterbitkan pada tahun 2020 oleh OECD, yaitu lembaga kerja sama ekonomi dan pembangunan negara-negara maju di benua Eropa dan Amerika.

Ada empat skenario yang diprediksi OECD bakal menampakkan wajah persekolahan di masa depan.

  • Persekolahan Meluas

Dalam skenario ini, angka partisipasi pendidikan formal masih akan terus bertambah. Artinya, sekolah formal tidak hilang atau digantikan oleh bentuk-bentuk lain satuan pendidikan. Bahkan, struktur dan proses persekolahan formal tetap ada. Hanya saja, dalam skenario ini, ada arus kuat yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi dan kolaborasi internasional menuju pembelajaran yang terindividualisasi. Sederhananya begini, anak bisa bersekolah di sekolah yang sama dengan anak-anak lain, tapi hasil pendidikannya akan sangat tergantung pada laku individual tiap-tiap anak, yang dipengaruhi antara lain oleh pola pikir dan kapasitas sosio-ekonomi orangtua atau keluarganya.

  • Outsource Pendidikan

Sistem persekolahan tradisional runtuh setelah masyarakat menjadi semakin terlibat langsung dalam mendidik warganya. Skenario ini memperkuat kecenderungan pembelajaran berlangsung lebih privat dan fleksibel. Ini terutama didorong oleh fasilitas teknologi digital. Dengan keberadaan teknologi digital, semakin kuat menggeser peran sekolah dan guru sebagai sumber pengetahuan.

  • Sekolah Sebagai Sentra Pembelajaran (Learning Hubs)

Sekolah tetap ada dan tetap akan menjadi aktor utama aktivitas pembelajaran. Tapi, keragaman dan eksperimentasi semakin menjadi hal yang biasa. Sekolah semakin terhubung dengan komunitas, sehingga bentuk-bentuk pembelajaran pun terdorong untuk berubah, masyarakat semakin terlibat dalam mendidik warganya, dan inovasi sosial pun lebih mudah memengaruhi praktik-praktik pembelajaran di sekolah.

  • BelajarSesuka Hatimu

Pendidikan berlangsung di mana saja, kapan saja. Perbedaan antara pembelajaran formal dan informal menjadi tidak nyata lagi setelah  masyarakat sepenuhnya berpaling pada kekuatan mesin (teknologi informasi).

[Bersambung ke Skenario Masa Depan Sekolah (Bagian 2)]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *