(Artikel ini merupakan Kata Pengantar buku seri MEMBACA MENDALAM TEKS NONFIKSI UNTUK KELAS IV, VI, DAN VI SD/MI yang diterbitkan oleh Yayasan Batutis Al-Ilmi Bekasi bekerja sama dengan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Membaca atau Gernas Tastaba)
Andai saja mata pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Dasar berisi menu yang kaya akan pengalaman berbahasa Indonesia. Ketika lulus, anak benar-benar mampu berbahasa Indonesia. Kemampuan berbahasa Indonesia berarti kemampuan yang meliputi empat matra, yaitu bahasa reseptif mendengar, bahasa ekspresif berbicara, bahasa reseptif membaca, dan bahasa ekspresif menulis.
Anak mendengar orang lain berbicara dalam bahasa Indonesia dan dia mengerti. Dia membaca teks berbahasa Indonesia, dan dia mengerti. Dia bisa menyatakan secara lisan dalam bahasa Indonesia apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya. Lalu, dia pun mampu menyatakan secara tertulis dalam bahasa Indonesia apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Itulah anak yang mampu berbahasa Indonesia.
Untuk mencapai kemampuan dasar itu, tidak ada pilihan lain, anak harus mendapatkan paparan bahasa Indonesia sebanyak dan sesering mungkin, lisan dan tulisan. Entah apa landasan teorinya, model pengajaran Bahasa Indonesia begitu bernafsu menyibukkan anak dengan urusan-urusan pengetahuan linguistik sejak sangat dini: SEKOLAH DASAR!
Pengajaran Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Dasar seyogyanya adalah kesempatan yang berlimpah bagi anak untuk merasakan bagaimana Bahasa Indonesia digunakan dengan baik, benar, indah, dan menarik. Semakin banyak dan sering anak merasakannya, pola-pola, struktur-struktur, gaya, dan cara berbahasa itu akan terinternalisasi dalam otak anak. Ada fakultas dalam otak anak manusia yang oleh Noam Chomsky dinamakan sebagai LAD (language-acquisition-device), alat pemerolehan bahasa.
Sederhananya begini: tak harus belajar tentang definisi kalimat aktif dan kalimat pasif, anak mampu memahami dan mempraktikkan ungkapan “Bunda membantu saya” dan “Saya dibantu Bunda”. LAD itu benar-benar ada. Jangan kuatir. Jadi, kekayaan paparan berbahasa akan jauh lebih efektif untuk menanamkan konsep kebahasaan, ketimbang meneror anak dengan himpunan pengetahuan linguistik.
Ibaratnya, guru berbusa-busa bercerita tentang banyak jenis mangga khas Indonesia, mangga golek, mangga indramayu, mangga arummanis, mangga putih, mangga kopyor dan lain-lain. Tapi, anak tidak pernah merasakan nikmatnya. Beri saja, “Ini mangga Indramayu, coba makan.” Maka, nyatalah pengalamannya.
Janganlah anak SD dipaksa menghapal jenis-jenis paragraf narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi. Pengetahuan itu hanya berguna buat anak yang kelak menekuni ilmu linguistik di masa depannya. Ingat, kita membutuhkan anak-anak yang terampil menggunakan bahasa Indonesia untuk mengembangkan potensi diri. Kita tidak sedang membangun anak-anak yang cekatan memilih jawaban benar pada sosal-soal ujian tentang ilmu bahasa.

Mendesaknya kebutuhan akan teks-teks nonfiksi pada jenjang SD mengacu antara lain pada teori Tahap Perkembangan Membaca yang diperkenalkan oleh Jeanne Chall (1921-1999). Dalam bukunya yang berjudul Stages of Reading Development (1983), Chall secara garis besar membagi perkembangan kemampuan membaca menjadi enam tahap secara berurutan, yaitu Prabaca; Membaca Awal dan Pelafalan; Konfirmasi dan Kelancaran; Membaca untuk Belajar; Sudut Pandang Majemuk; dan Konstruksi dan Rekonstruksi. Perkembangan kemampuan itu tergambar dalam tabel berikut:
TAHAP PERKEMBANGAN MEMBACA CHALL


Dengan mengikuti rumusan Chall, maka dapat dikatakan bahwa murid kelas IV, V, dan VI berada pada tahap ke-3, yaitu Membaca untuk Belajar Hal Baru. Pada tahap ini, idealnya anak telah mentas dari tahap “belajar membaca” (learn to read) dan beralih ke tahap “membaca untuk belajar” (read to learn). Bahkan, anak telah menabung bekal “kelancaran” membaca, sehingga hasratnya sedang mekar semekar-mekarnya untuk menikmati sensasi-sensasi penemuan hal baru dari aktivitas membaca.
CORI (Concept-Oriented Reading Instruction) yang dikembangkan pada tahun 1993 oleh Dr. John T. Guthrie dari University of Illinois juga bisa menjadi dasar pentingnya anak SD berinteraksi dengan teks-teks nonfiksi. Hasil riset Guthrie menunjukkan kelompok murid yang menjalani program CORI dapat membangun motivasi, ketekunan, dan pencapaian lebih besar dalam membaca.
Proyek CORI mengimplementasikan sebuah kerangka pengajaran membaca dengan orientasi konseptual, dengan tujuan meningkatkan kemampuan anak membaca, motivasi membaca yang intrinsik, dan strategi-strategi pencarian serta pemahaman. CORI menggunakan teks-teks dengan beragam tema interdisiplin, terutama yang diambil dari kurikulum sains, seperti mengeksplorasi dampak manusia pada habitat binatang. CORI menyediakan pentunjuk eksplisit pengajaran strategi-strategi membaca, seperti bertanya, aktivasi pengetahuan yang sudah dimiliki (background knowledge), pencarian informasi, meringkas, dan mensintesa informasi dalam rangka mengomunikasikan kepada orang lain.
Manfaat yang dapat diharapkan dari aktivitas Membaca Mendalam Teks Nofiksi pada jenjang SD, khususnya kelas atas, antara lain sebagai berikut:
- Membangun Pengetahuan Latar (background knowledge) dan Persiapan Akademik: menjadikan mata pelajaran yang kompleks (seperti sains dan ilmu sosial) lebih aksesibel dan menyiapkan murid pada masa depan belajar.
- Mendorong pengayaan Kosakata dan Pemahaman: teks nonfiksi memperkenalkan istilah-istilah dan struktur-struktur khusus (judul, diagram, dan lain-lain) yang memperkuat pemahaman.
- Menginspirasi Keingintahuan (Curiosity): menanamkan rasa ingin tahu yang inheren pada murid dengan fakta-fakta dan topik-topik riil –sering memotivasi mereka ketimbang fiksi.
- Memperkuat kemapuan Bernalar Kritis dan Literasi Media: mendorong murid untuk mengevaluasi fakta versus opini, kredibilitas sumber, dan mengembangkan skeptisisme berbasis data, yang merupakan keterampilan hidup vital.
Seiring dengan Standar-standar Edukasional: Tujuan utamanya adalah memuluskan peralihan anak pada jenjang kelas atas SD menuju nonfiksi –mulai kelas IV, porsi membaca diharapkan 50% fiksi dan 50% informasional.
Seri Membaca Mendalam Teks Nofiksi ini, yang diterbitkan atas kerja sama Sekolah Batutis Al-Ilmi dengan Yayasan Penggerak Indonesia Cerdas, hadir sebagai sebuah ikhtiar kecil untuk turut mengayakan pengalaman anak dalam berbahasa Indonesia. Dengan pilihan tema-tema yang menarik, diharapkan akan terbangun minat dan daya baca anak. Anak membutuhkan kesempatan untuk sesering mungkin merasakan bagaimana bahasa Indonesia digunakan dalam teks tertulis. Semakin sering, semakin besar peluang anak untuk merasakan bagaimana kegiatan membaca menghadirkan pengalaman, keasyikan, sensasi, dan keseruan menemukan hal-hal baru. Jika peluang itu dapat diraih, maka dua hal dapat diharapkan tercapai sekaligus. Pertama, daya nalar dan daya belajar terasah. Sebab, bahasa adalah instrumen utama pencerdasan. Kedua, semoga akan terbentuk efek ketagihan untuk membaca dan membaca.
Seri Membaca Mendalam Teks Nofiksi ini merupakan kumpulan materi bacaan yang saya siapkan untuk anak kelas IV, V, dan VI di SD Batutis Al-Ilmi dalam kurun waktu lima tahun sejak tahun 2020. Pada setiap pertemuan, mata pelajaran Bahasa Indonesia anak membaca satu judul teks sebagai pekerjaan pertama, baik secara senyap mandiri, maupun membaca lantang bergiliran per paragraf. Untuk memastikan mereka menyerap dan memahami apa yang mereka baca, menu pekerjaan selanjutnya adalah menyajikan isi teks dalam tabel isi paragraf, bagan, mindmap, atau infografis. (lihat PEDOMAN PENGGUNAAN BUKU)
Kemampuan anak dalam satu kelas tentulah beragam. Ada anak yang sekali baca secara mandiri langsung mampu menyerap seluruh isi teks. Kemampuan itu tercermin pada hasil pekerjaannya, terutama pada penyajian isi teks dalam tabel isi paragraf, bagan, mindmap, atau infografis.
Pada titik inipun ada bermacam-macam tingkatan kemampuan. Ada anak yang mampu melakukannya dengan parafrasa, ada yang mampu sekadar mengelompokkan informasi dan menuliskan kembali informasi yang tertulis dalam teks apa adanya.
Ada anak yang membutuhkan pembahasan secara lisan sebelum membaca, atau sekurang-kurangnya mendengarkan contoh pembacaan dengan intonasi dan tekanan yang tepat. Bahkan, ada anak yang masih berjuang melafalkan kalimat-kalimat dalam teks.
Pada titik manapun anak berada, guru, orangtua, atau siapapun orang dewasa yang mendampingi tidak diharapkan sekadar menjadi hakim. Anak tidak membutuhkan pembuat keputusan tentang label-label kemampuan anak. Yang dibutuhkan anak adalah pendampingan, perlakuan, dan bantuan yang tepat sesuai dengan kemampuannya, agar anak bergerak dari satu titik kemajuan ke titik kemajuan berikutnya.
Semoga ikhtiar kecil ini mencapai maksudnya. Saya berterimakasih kepada banyak pihak yang memungkinkan buku ini terbit. Tak mungkin saya sebutkan satu persatu, tapi tak mengurangi takzim saya. Bapak Yudhistira ANM Massardi (alm.) dan Ibu Siska Yudhistira Massardi sebagai pimpinan Yayasan Pendidikan Batutis Al-Ilmi Bekasi, adalah sepasang sosok yang selalu memberi inspirasi untuk menemukan pengalaman-pengalaman baru.
Semua guru Sekolah Batutis Al-Ilmi adalah teman belajar, teman kerja dan teman diskusi yang selalu mengasyikkan. Teman-teman saya, para murid kelas IV, V, dan VI, tak henti memberi saya semangat dengan tatapan, kesungguhan, kegembiraan, dan kadang-kadang protes kala menikmati menu-menu pekerjaan yang saya berikan.
Yang terakhir, namun tak sedikit pun berkurang nilainya yang luar biasa, adalah inspirasi dari para pendiri dan aktivis Yayasan Penggerak Indonesia Cerdas (Pengincer). Melalui dua gerakan hebat yang dibesutnya, yakni Gernas Tastaka dan Gernas Tastaba, Yayasan Pengincer memberi saya kesempatan untuk belajar pada orang-orang hebat. Terima kasih kepada Bapak Ahmad Rizali, Bapak Sururi Aziz, Ibu Itje Chodidjah, Ibu Dhitta Puti Sharasvati, Bapak HB Arifin, Bapak Mohammad Fathii, dan banyak lagi pejuang di Gernas Tastaka dan Gernas Tastaba yang tak dapat saya sebutkan satu per satu. Terima kasih teristimewa karena Yayasan Pengincer berkenan turut mensponsori menerbitkan naskah yang bersahaja ini menjadi buku. Yang lebih membahagiakan saya, Bapak Ahmad Rizali berkenan memberi kata sambutan dan Bapak HB Arifin berbaik hati menyunting buku ini.
Semoga ikhtiar sederhana ini berbuah manfaat. Harapan besar saya dari penerbitan buku ini adalah akan banyak penulis yang tergerak hatinya untuk menyediakan bacaan nofiksi yang bermutu dan menarik untuk anak Sekolah Dasar. Sehingga, sebagai guru, saya akan mendapati banyak pilihan, syukur-syukur yang memenuhi kebutuhan akan ragam tema pembelajaran di Sekolah Dasar. Pada gilirannya, kelak anak-anak Sekolah beroleh ketangkasan membaca –dan karena itu, kemahiran belajar—serta membangun kecintaan membaca buku. Semoga.