Kebiasaan-kebiasaan Guru Batutis Al-Ilmi dalam mempraktikkan Metode Sentra sangat relevan dalam menjawab tantangan menghadapi masa depan pendidikan

Skenario Masa Depan Sekolah (Bagian 2)

Pandemi COVID-19 dan kemajuan teknologi informasi membawa tantangan bagi guru dan orangtua untuk menyiapkan anak menghadapi masa depan.

[lihat artikel sebelumnya: Skenario Masa Depan Sekolah (Bagian 1)

Apa yang bisa dipetik dari gambaran tentang skenario masa depan sekolah di atas, khususnya bagi guru dan orangtua? Penulis artikel ini akan mencoba mengetengahkan refleksi personal dari pengalaman menjadi guru di Sekolah Batutis Al-Ilmi, yang menerapkan Metode Sentra. Sebagaimana yang dialami guru pada umumnya, gelombang pandemi COVID-19 mendatangkan guncangan-guncangan bagi kami para guru di Sekolah Batutis.

Guncangan-guncangan itu menuntut “belajar cepat” keterampilan-keterampilan baru. Di antaranya, kami belajar menyiapkan alat bantu pembelajaran dengan aplikasi-aplikasi digital; belajar merancang strategi kegiatan belajar-mengajar yang efektif secara daring; belajar membaca progres belajar anak dari sigi kognisi, afeksi dan psikomotor dalam situasi interaksi jarak jauh; belajar meningkatkan kerja sama yang efektif dengan orangtua; belajar memanfaatkan sebaik-baiknya sarana komunikasi virtual untuk koordinasi sesama guru; dan lain-lain.

Kami bersyukur karena dengan menerapkan model pembelajaran Metode Sentra, kami sudah memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sangat berguna untuk menghadapi dan menyiasati keadaan yang serba disruptif ini. Misalnya, setiap guru Sekolah Batutis dibekali dengan keterampilan menyusun alat kerja yang memungkinkan perekaman progres belajar anak secara intensif dan individual.

Buku Back to the Future of Education, Four OECD Scenarios for Schooling yang diterbitkan OECD tahun 2020

Kebiasaan itu semakin berarti karena kami juga memiliki kebiasaan lain, yaitu koordinasi dan kerja sama yang erat antarguru. Setiap kali mendapati masalah pada satu anak, seorang guru menyampaikannya dBukualam rapat guru dan kami berbagi pengalaman dan pandangan tetang anak tersebut. Kerja sama erat ini memungkinkan penanganan masalah lebih dini, sehingga tidak berlarut-larut.

Kebiasaan lain yang telah kami miliki adalah perekaman itu tidak hanya berupa hasil akhir belajar yang disimbolkan angka-angka hasil ujian. Perekaman itu juga memuat problem-problem belajar yang dihadapi anak, sekaligus langkah-langkah yang sudah ditempuh untuk mengatasinya. Kebiasaan ini sangat sesuai dengan tren yang digambarkan dalam skenario nomor 1 di atas, yaitu kecenderungan proses pembelajaran yang terindividualisasi.

Ada satu lagi kebiasaan, atau lebih tepatnya paradigma pembelajaran, yang kami pegang teguh, yaitu bahwa pembelajaran adalah untuk masa depan, yang maknanya jauh lebih luas ketimbang pencapaian target-target sistemik yang dirupakan dalam lembar angka-angka hasil ujian. Rancangan tujuan dan sasaran pembelajaran sudah pasti ada ada. Tapi, bagi kami itu bukan instrumen untuk memvonis atau menghukum “kegagalan” anak. Kami lebih memperlakukan uraian tujuan dan sasaran pembelajaran sebagai instrumen strategi kami untuk membantu anak.

Di satu sisi, paradigma ini membantu kami untuk selalu sabar dan berpikir positif, bahkan kepada anak yang terdefinisikan “lemah” secara sistem. Kami berpikir positif bahwa anak seperti itu, sebagaimana anak-anak yang lain, memiliki jalan kehidupan yang unik. Orangtua dan kami para guru dipercaya untuk membantu anak-anak itu agar bisa tumbuh sebaik-baiknya.

Berikut ini adalah sejumlah insight yang kami peroleh dari pengalaman selama hampir setahun menjalankan pembelajaran jarak jauh di Sekolah Batutis Al-Ilmi.

  1. Disrupsi menuntut guru dan orangtua untuk mendekap anak dengan cinta yang menumbuhkan; cinta yang berpemahaman, dan cinta yang berpengetahuan. Guru dan orangtua dituntut untuk semakin intim memahami sampai di mana anak berproses dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Dengan pemahaman yang tepat, maka guru dan orangtua dapat memberikan apa yang dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang lebih baik. Dengan itu, guru dan orangtua dapat memberi apa yang membahagiakan anak dalam ketekunan belajar. Artinya, guru dan orangtua dapat menjaga harta utama anak: cinta belajar.
  2. Disrupsi meniscayakan pemaknaan belajar dan pengetahuan secara lebih luas, yaitu belajar untuk kehidupan: kehidupan yang sudah berlalu, kehidupan saat ini dan kehidupan di masa depan. Itulah inti kurikulum. Bila terasa ada keharusan-keharusan sistemik yang seakan-akan tak tercapai oleh anak tertentu, maka kembalilah pada prinsip pendidikan untuk kehidupan. Ini sangat relevan ketika pada saatnya terjadi, skenario runtuhnya sistem persekolahan tradisional (skenario 2) akan menyebabkan keunikan-keunikan proses pembelajaran akan lebih menentukan masa depan dibandingkan dengan tanda hasil penyaringan sistem. Bagaimanapun, pendidikan tidak seyogyanya serupa sistem untuk menggugurkan anak-anak yang “terjaring gagal”.
  3. Karena itu, alokasikan energi lebih banyak untuk membantu dan memberi yang terbaik bagi setiap anak, ketimbang untuk menyibukkan anak-anak dengan mistar-mitar pengukuran yang malah dapat merongrong cinta belajar mereka. Guru dan orangtua selalu ada bagi anak-anak yang membutuhkan bantuan untuk tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya.
  4. Pendidikan adalah membangun dengan kesabaran dan terus-menerus untuk semua anak. Kesabaran memerlukan pemahaman, peningkatan pengetahuan, perbaikan keterampilan dan seterusnya. Untuk membangun cinta belajar pada anak, guru dan orangtua harus menjadikan diri pribadi yang cinta belajar, belajar, belajar dan belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *