Buku Metode Sentra Sekolah Batutis Al-Ilmi

Pendidikan Karakter adalah akumulasi dari sebuah proses panjang yang dimulai dari visi orangtua. Sekolah adalah tempat sekunder dalam membangun bekal kehidupan anak.

Kemajuan teknologi informasi semakin memudahkan kita mendapatkan pengetahuan. Kemudahan itu, di satu sisi, juga semakin memperkecil ketergantungan orang pada sumber-sumber formal pengetahuan, seperti sekolah atau lembaga pendidikan. Semakin banyak orang yang memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru tanpa berlama-lama duduk di kelas; tanpa menghadapi segala kerumitan serta beban prosedur dan administrasi persekolahan. Lalu, pengetahuan dan keterampilan baru itu begitu berdaya guna untuk meningkatkan taraf hidup.

Tapi pada sisi lain, kemudahan itu juga berarti keberlimpahan pengetahuan, yang pada tingkat ekstrem, menjadi “banjir pengetahuan”, yang memerlukan energi ekstra kecermatan untuk memilah mana yang relevan dan mana yang tidak. Jika tidak cermat, “banjir pengetahuan” malah bisa menjadi beban yang bukan hanya tidak relevan, melainkan juga bisa merugikan. Ya, kemudahan beriring dengan tantangan.

Keadaan seperti itu juga berlaku dalam urusan menjadi orangtua (parents). Dulu, orang bilang “tak ada sekolahnya” untuk menjadi orangtua. Faktanya, memang tidak ada yang namanya “Fakultas Keorangtuaan” atau “Fakultas Parenting” sebagai program studi linear dengan tujuan menyiapkan tenaga-tenaga terampil untuk bisa “bekerja” menjadi orangtua.

Tapi kini, dengan gadget di tangan, pengetahuan tentang keorangtuaan bisa diakses dari beribu-ribu sumber dalam bermacam-macam bentuk. Bisa artikel, infografis, slide, video ceramah, telekonferensi, bahkan “sekolah virtual”.  Just one click away!

Nah, tantangannya ya itu tadi. Filter. Saringan. Instrumen untuk memilah: “Apa dan mana yang kita butuhkan.” Kalau tidak ada, kita bisa hanyut oleh pesona bermacam-macam tawaran, misalnya, bermacam-macam seminar parenting. Semua diikuti. Bila beruntung, semua kompatibel untuk membangun suatu insight yang kokoh sebagai bekal menjadi orangtua. Tapi, tidak tertutup kemungkinan, semua terhimpun dan kemudian membikin bingung, “dari mana memulainya?”

Kebingungan akan sempurna bila–dalam paradigma yang belum membebaskan kita dari ketergantungan total pada sekolah formal—sekolah-sekolah tempat kita mempercayakan anak-anak kita tidak seirama dengan apa yang kita bayangkan. Kesempurnaannya semakin “kelar” dan “ambyar” jika di saluran media sosial, kita mudah hanyut baper dengan isu-isu politik pendidikan.

Jadi, solusinya bagaimana? Visi. Visi orangtua. Dengan visi, orangtua tidak hanya dapat memilah kebutuhan pengetahuan yang relevan, tetapi juga menetapkan mana pilihan-pilihan dan tawaran-tawaran yang tepat ketika anak telah memasuki periode sekolah. Artinya, kendali utama keputusan untuk memilih yang terbaik bagi anak ada pada orangtua hingga anak mencapai titik tamyiz, saat anak mampu mandiri dan bertanggungjawab atas keputusan apa yang terbaik bagi diri dan kehidupannya.

Titik tamyiz itulah sejatinya muara pendidikan, yang berarti pembangunan karakter sebagai bekal kehidupan. Pendidikan bukanlah penghimpunan angka-angka dalam lembar kertas ijazah. Pendidikan adalah pembangunan bekal kehidupan, yang mencakup pembangunan sikap dan bermacam-macam keterampilan serta kemampuan untuk kehidupan. Dan, pendidikan karakter merupakan akumulasi dari sebuah proses panjang sejak dini.

Dengan visi pula, orangtua menjadi lebih kebal dari symptom “baper” pasif terhadap bermacam-macam hal yang berada di luar kendalinya, semisal iklim pancaroba politik pendidikan, ganti menteri, rokade kurikulum, penghapusan Ujian Nasional, zonasi pendaftaran sekolah… dan…. apa saja. Tidak relevan lagi pertanyaan, “Akan dibawa ke mana pendidikan kita?” Yang ada, “Saya siap berikhtiar membantu anak saya membangun bekal kehidupan yang bermakna.”

Lebih dari itu, orangtua-orangtua dengan visi masa depan yang kuat adalah modal dasar paling otentik bagi kemajuan pendidikan bangsa di masa depan. Karenanya, sesederhana apapun, mari berikhtiar merumuskan visi, dan kemudian misi, untuk mengantarkan anak-anak menuju masa depan.

Buku berjudul Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra ini adalah salah satu bahan yang berharga untuk memulainya. Di dalamnya diuraikan pengetahuan dasar tentang tahap perkembangan anak; kebutuhan alamiah anak dalam belajar sejak dini (jenis-jenis bermain yang belajar); kecerdasan dan proses pertumbuhannya; sampai dengan panduan praktis membersamai anak dalam belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *