Buah dari pembangunan karakter dalam pendidikan adalah yang pertama-tama pemahaman. Pada anak usia dini, pemahaman didapat dari pengalaman-pengalaman langsung yang kemudian membantuk sikap-sikap, perilaku dan pola pikir.

Maka, pembangunan karakter sesungguhnya adalah satu kesatuan proses pembangunan kognisi, afeksi dan psikomotorik sekaligus. Contoh sederhana, untuk mencapai sikap, perilaku dan pola pikir disiplin bekerja, anak membutuhkan kemampuan memahami hitungan waktu; kemampuan melakukan prosedur dan urutan; kemampuan memetik hikmah emosional, seperti kepuasan akan pencapaian (satisfaction for accomplishment), kepercayaan diri, regulasi diri dan lain; juga kemampuan memahami hubungan sebab-akibat atau konsekuensi dari apa yang dia lakukan atau tidak dia lakukan.

Satu lagi yang tak boleh diabaikan: kemampuan berbahasa, baik dalam bentuk bahasa penerimaan (receptive language) maupun bahasa ungkapan (expressive language). Sebab, bahasa adalah medium pokok bagi terjadinya interaksi bermakna antara guru dan anak, dan bagi tumbuhnya pemahaman menjadi pengetahuan sampai ilmu.

Jadi, tampak jelas, bahwa pencapaian pemahaman, perilaku dan pola pikir disiplin bekerja membutuhkan logik-matematik, keterampilan ragawi, dan kemampuan afeksi. Ketiga hal itu membutuhkan proses-proses pengalaman langsung, tidak sekadar pengajaran verbal semisal, “Kamu harus disiplin.”

Metode Sentra menyediakan proses-proses itu bagi anak, difasilitasi oleh guru yang memandang belajar sebagai proses terpadu-menyeluruh. Bagi guru Metode Sentra, semua aktivitas anak sejak tiba di sekolah sampai pulang, adalah rangkaian proses belajar. Semua diperhatikan, semua ditekuni, semua diperlakukan sebagai momen-momen belajar yang bermakna.

Dalam rangkaian video berikut ini tersaji nukilan praktik Metode Sentra, Sentra Main Peran Besar di Sekolah Batutis Al-Ilmi. Silakan.

https://www.youtube.com/watch?v=h2S6z16XFH4


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *