Pentas Seni Batutis Al-Ilmi

Anak usia dini adalah peneliti, yang merekam apa saja di sekelilingnya. Itu berarti, anak usia dini juga cenderung responsif terhadap stimulus yang membawanya untuk menemukan hal-hal baru. Bisa sesuatu yang baik, bisa juga sebaliknya. Bisa juga, hal baru itu hanya berupa sensasi kesenangan sesaat yang segera hilang. Namun, jika ditangani dengan cara yang tepat, sensasi kesenangan sesaat bisa menjadi bekal yang bermakna

Pentas Seni Batutis Al-Ilmi
Persiapan untuk Pentas Seni Sekolah Batutis Al-Ilmi

Jumat lalu, anak-anak TK Batutis Al-Ilmi memanfaatkan jeda main bebas (yakni sebelum memulai kegiatan Sentra) untuk latihan pentas seni, yang akan dilakukan setelah Lebaran. Latihan dilakukan dengan menampilkan secara berurutan mulai dari kelas bayi-toddler, PG (Kelompok Bermain), TK-A, sampai TK-B. Di akhir sesi latihan, semua kelompok tampil di “panggung” untuk bernyanyi bersama.

Saat itulah muncul kejadian di luar skenario latihan. Davi dan Sa’ad, sebagai murid kelompok “paling senior” kebagian barisan paling belakang. Mula-mula keduanya fokus mengikuti sesi nyanyi bersama. Perhatian Sa’ad tiba beralih ke sapu di belakang barisan mereka. Ia memain-mainkannya, sehingga sedikit mengganggu beberapa teman.

Itu tak berlangsung lama. Sa’ad mengembalikan sapu ke tempat asalnya. Lalu ia duduk di atas rak sepatu, dan muncullah keisengannya, melempar sepatu ke arah Davi. Davi yang terlihat kesal tidak membalas melempar, tapi langsung “menjebloskan” sepatu  ke dalam tempat sampah.  Rupanya, dalam sepersekian detik terjadi semacam kesepakatan tak terucap antara Sa’ad dan Davi: Sa’ad melempar, Davi menangkap dan memasukkan sepatu ke tempat sampah. Mereka tampak menikmati sensasi itu berdua, hingga lima atau enam sepatu masuk ke tempat sampah.

Usai sesi latihan, mereka pun berhambur ke kelompok masing-masing untuk kegiatan Sentra. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Lalu seseorang yang melihat kejadian itu menginformasikan kepada guru, ada beberapa sepatu yang dimasukkan ke dalam. Guru bertanya, siapa yang melakukan?

Tanpa dibebani asumsi panjang lebar, guru memanggil Davi dan Sa’ad untuk bertanya

tetang apa yang mereka lakukan terhadap sepatu-sepatu itu. Dalam waktu tak sampai dua menit, tanpa kalimat-kalimat teguran atau nasihat, apalagi hukuman, Davi dan Sa’ad dapat menyelesaikan urusan mereka berdua. Sepatu-sepatu kembali ke rak, dan mereka berdua kembali ke kelompok masing-masing untuk kegiatan Sentra.

Bila ditilik dari segi waktu, kejadian itu bisa disebut hanya sekelumit lintasan dalam satu hari pengalaman belajar bagi keduanya. Tapi, pengalaman langsung melakukan sesuatu dalam rangka bertanggungjawab atas perbuatan yang mereka lakukan, tentu akan memiliki efek jangka panjang. Pada saat yang sama, kedua anak itu tidak merasa tersudutkan oleh judgement atau hukum dari guru. Mereka menjalani proses itu sebagai konsekuensi dalam prosedur yang sudah mereka pahami dan sepakati.

Sebaliknya di pihak guru, yang mereka lakukan pun sebatas prosedur konsekuensi biasa, tanpa dihantui asumsi –asumsi tentang sifat atau niat buruk pada anak. Anak melakukan sesuatu, menerima konsekuensinya, dan kemudian bertanggungjawab atas apa yang mereka lakukan, itu sudah cukup. Namun, dengan langkah-langkah yang terbatas itu, guru sesungguhnya sedang membantu anak membangun sikap bertanggungjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *