Seminar Metode Sentra

Pembangunan karakter anak membutuhkan tumpuan berupa pengenalan konsep diri yang kuat. Dalam praktiknya, keberhasilan pengenalan konsep diri itu ditentukan oleh kualitas komunikasi orangtua dengan anak. Ada tiga jenis komunikasi orangtua dengan anak yang menunjukkan tingkat kualitasnya, yaitu komunikasi ala “child” (anak), komunikasi bergaya “parents” (orangtua), dan komunikasi berkualitas “adult” (dewasa). Ya, meskipun orangtua tentu saja adalah orang berusia dewasa, namun cara berkomunikasi tiap-tiap orangtua memperlihatkan sifat-sifat yang mencerminkan kematangannya.

Demikian antara lain pokok pikiran yang disampaikan oleh Chief Trainer Metode Sentra, Siska Yudhistira Massardi, dalam Seminar Parenting bertajuk “Membangun Karakter Anak Melalui Pengenalan Konsep Diri” di TKIT An-Nahl, Desa Curug, Kecamatan Gunungsindur, Kabupaten Bogor, Sabtu (21 April 2018). Seminar yang diselenggarakan oleh Persatuan Orangtua dan Guru TKIT An-Nahl itu diikuti sekitar 40 walimurid dan guru dari beberapa lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) di Gunungsindur.

Bagi TKIT An-Nahl, ini seminar kedua bersama Bu Siska –demikian pendiri Sekolah Batutis itu biasa disapa—setelah sekitar lima tahun. TKIT An-Nahl sudah menerapkan model pembelajaran Metode Sentra sejak tahun 2010, dan telah mengirim semua gurunya ke Pelatihan Metode Sentra di Sekolah Batutis Al-Ilmi. Setelah seminar, Bu Siska menyempatkan diri berdialog secara khusus dengan para guru.

Seminar Parenting TKIT An-Nahl
Sesi Tanya Jawab Seminar Parenting TKIT An-Nahl

Komunikasi Orangtua yang Mengedepankan Solusi

Yang dimaksud komunikasi ala “child” oleh Bu Siska adalah gaya bekomunikasi dengan mengandalkan keluhan saat menghadapi problem anak. Walau dilakukan oleh orang berusia dewasa, komunikasi itu didominasi oleh tahap kanak-kanak, yang cenderung tak berdaya karena belum matangnya pemahaman masalah dan cara berkomunikasi. Sehingga, yang keluar dalam komunikasi bukan sesuatu bermakna bagi penumbuhan dan pengembangan kemampuan anak, melainkan justru menghambat.

Selanjutnya, cara komunikasi yang disebut bergaya “parent” secara sekilas terasa “naik tingkat” karena didasarkan pengalaman. Namun, bentuk komunikasinya yang searah, yakni berupa perintah, arahan dan larangan. Akibatnya, anak tidak mendapat kesempatan yang baik untuk mengembangkan diri dalam suatu proses alamiah sesuai dengan tahapan. Yang sering terjadi, menurut Bu Siska, adalah penyalinan warisan pengalaman sebagaimana dialami sang orangtua semasa kanak-kanak.

Nah, yang dibutuhkan anak adalah komunikasi berkualitas “adult”, atau komunikasi “dewasa”. Ciri-ciri cara berkomunikasi ini adalah melekatnya unsur solusi yang relevan dengan masalah dan tahap perkembangan anak. Untuk dapat melakukannya, orangtua perlu memiliki pemahaman yang memadai hal-hal dasar yang dibutuhkan dalam membangun karakter anak, yang dalam Seminar tersebut dibingkai dalam tujuh strategi.

Pembangunan Karakter Sejak dalam Kandungan

Ceramah ilmiah-populer dan diskusi sekitar dua jam itu membedah tujuh strategi membangun konsep diri pada anak sejak dini sebagai unsur dasar pembangunan karakter yang kokoh. Ketujuh strategi itu adalah: menghormati anak; komunikasi yang membangun; resolusi konflik; penghargaan atas proses; pemahaman tentang konsep diri; menumbuhkan empati; disiplin dengan kasih sayang; sikap ikhlash & qana’ah.

Strategi pertama, orangtua wajib menghormati anak sejak dalam kandungan. Apa yang dialami ibu saat mengandung, kondisi perasaannya, bahasa yang digunakan saat berbicara dan sebagainya, semua terekam dalam proses panjang pembentukan pribadi anak yang akan dilahirkan. Karena itu, Bu Siska berpesan kepada para calon ibu, agar menjalani masa kehamilan sebagai orang dewasa, bukan hamil sebagai pribadi kanak-kanak yang hanya memperturutkan keinginan. “Ngidam itu tidak ada,” kata Bu Siska.

Saat anak mulai bisa menatap mata orangtua merupakan tonggak penting, sehingga perlu mendapat pengutamaan sepenuh hati. Tonggak-tonggak lain yang patut diperhatikan adalah ketika anak mulai berbicara dan mengungkapkan perasaan, serta saat anak mulai mengenal lingkungan di sekitarnya, mengenal siapa yang membuat nyaman ibu dan dirinya. Tonggak-tonggak itu seyogyanya diperlakukan secara istimewa

Strategi kedua, komunikasi yang membangun, yakni komunikasi yang mengutamakan kalimat-kalimat positif dan tidak menyudutkan. Yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi adalah bahwa anak menjadi pelaku utama, dan tidak dibanding-bandingkan dengan orang lain. Mengapa? Karena komunikasi yang sedang dilakukan adalah komunikasi dengan anak sebagai subjek komunikasi, bukan tentang anak lain atau orang lain.

Kemampuan Berbahasa Sebagai Kemampuan Tertinggi

Strategi ketiga, resolusi konflik atau pemecahan masalah dengan berbicara. Bu Siska menjelaskan tahap-tahap kemampuan pemecahan masalah, dimulai dari cara pasif, agresi fisik, agresi verbal, sampai tahap tertinggi, yakni dengan bahasa. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya menyangkut hubungan antara suami dan istri, sering terjadi satu pihak menuntut pihak lain secara otomatis memahami apa yang dirasakannya tanpa berbicara.

Dengan cara diam atau menangis, tanpa berkomunikasi, sesungguhnya seseorang memperlihatkan tahap paling rendah (tahap bayi) dalam memecahkan masalah. Tahap agresi fisik tumbuh saat anak mencapai usia dua sampai tiga tahun, yakni saat anak belum memiliki kemampuan berbahasa yang dapat mengakomodasi isi pikiran dan perasaannya. Tahap selanjutnya adalah agresi verbal pada usia tiga sampai lima tahun, saat anak sudah mulai memiliki kemampuan merangkai kata-kata, namun masih terbatas.

Anak akan mulai belajar memecahkan masalah dengan bahasa (language) ketika kemampuan berbahasa sudah dapat mengakomodasi isi pikiran dan perasaannya. Salah satu contoh bentuk awal kemunculan kemamuan itu adalah ketika anak mampu menyatakan, “Aku tidak nyaman.”

Proses Kerja yang Belum Selesai

Strategi keempat, menghargai proses. Dalam hal ini, orangtua perlu memahami bahwa anak bukan orang dewasa mini. Sehingga, membangun pemahaman anak lebih berharga ketimbang kemampuan melakukan sesuatu berdasarkan perintah. Selain itu, dengan prinsip menghargai proses, orangtua melihat kegagalan pada anak adalah proses kerja yang belum selesai.

Strategi kelima, fokus pada konsep diri. Sebelum menuju ke pembanguna konsep diri pada anak, tentu saja harus dipastikan bahwa orangtua sendiri memiliki konsep diri yang kuat. Konsep diri yang kuat berarti bukan konsep diri yang latah, ikut-ikutan, dan tumbuh karena pengaruh dari luar yang tidak relevan. Dengan itu, orangtua akan mampu memberi kesempatan anak untuk tumbuh sebagai pribadi yang seutuhnya, memberi hak sesuai dengan fitrah, serta memberi tanggungjawab kepada anak sesuai dengan porsinya.

Strategi keenam, menumbuhkan empati. Dalam hal ini hal penting yang harus diperhatikan adalah menghargai dan bukan meremehkan masalah yang dihadapi anak anak dalam bentuk apapun. Misalnya, saat anak gagal, belum mampu melakukan sesuatu, atau menangis karena tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Jika terbiasa dihargai posisi sulitnya saat menghadapi masalah, maka anak pun lebih mudah belajar tentang kesulitan orang lain dalam menghadapi masalah. Contoh, saat anak merajuk tidak mau pulang bepergian atau berkunjung ke rumah kerabat, penghargaan itu bisa diwujudkan dalam kalimat seperti ini. “Ibu mengerti perasaanmu. Tapi, sekarang saatnya kita pulang.”

Strategi ketujuh, ikhlas & qana’ah. Strategi ini bertumpu pada pemahaman bahwa setiap anak dibekali Sang Maha Pencipta dengan kemampuan dan peran kehidupan yang berbeda-beda. Karena itu, anak tidak boleh menjadi target ambisi orangtua. Tugas orangtua adalah membuat program dan mengisi tahap-tahap perkembangannya sesuai dengan yang dibutuhkan anak. Orangtua yang menjalankan pembangunan karakter anak sesuai dengan fitrah yang dibekalkan Allah swt akan berbahagia dan sabar menjalani semua prosesnya. Hasil akhirnya, biarlah Allah yang menentukan.

Dikusi, dialog dan konsultasi Guru TKIT An-Nahl bersama Ibu Siska Yudhistira Massardi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *