Tahap Belajar Usia Dini sampai SD

Ruang-ruang belajar SD Batutis Al-Ilmi di Pekayon Jaya, Bekasi, Sabtu lalu (7/4/2018) berubah menjadi ajang pameran tahunan. Warna-warni pernak-pernik dekorasi menyambut pengunjung sejak di pintu masuk lantai satu gedung sekolah. Inilah ajang observasi tahap belajar dalam beragam karya yang dihasilkan anak selama kegiatan pembelajaran.

Selain para wali murid Sekolah Batutis, pameran kali ini juga dihadiri tamu dari luar, antara lain dari Cikarang, Tangerang, Bandung dan Bekasi. Ruang-ruang belajar lantai satu dikhususkan untuk karya-karya anak TK dan lantai dua untuk SD. Ini merupakan pameran kedua gabungan TK dan SD Batutis Al-Ilmi, menampilkan karya-karya para murid dari jenjang Baby House, Toddler, Kelompok Bermain, TK-A, TK-B dan Kelas I sampai Kelas VI.

Pameran TK Batutis Al-Ilmi
Pameran SD Batutis Al-Ilmi

Sebelumnya, pameran kedua lembaga diselenggarakan terpisah. Dengan penyatuan pameran, pengunjung dapat mengobservasi lintasan tahap belajar anak-anak dari bayi sampai kelas VI SD. Kesinambungan objek observasi tersebut merupakan salah satu daya tarik utama pameran sekolah-sekolah yang sudah menerapkan Metode Sentra. Arus pergerakan pengunjung di ruang-ruang pameran diatur sedemikian rupa mengikuti tahap-tahap belajar. Sehingga, dengan melihat pameran, pengunjung dapat merasakah peranjakan atau peningkatan kemampuan anak dalam belajar.

Klasifikasi Karya dan Evaluasi Pembelajaran

Tentu saja, tidak semua hasil pekerjaan anak dalam periode belajar yang sudah dijalani hingga saat pameran dapat tersajikan. Selain, karena keterbatasan tempat, sebagian hasil pekerjaan anak tidak memungkinkan untuk disimpan dan dipamerkan, misalnya hasil-hasil pekerjaan di Sentra Bahan Alam dan Sentra Balok.

Di samping itu, pada setiap tahun, minat, daya serap, dan pencapaian belajar anak dalam tiap-tiap tema tentu berbeda-beda. Karenanya, bagi para guru Sekolah Batutis sendiri pun, pameran merupakan bahan evaluasi yang sangat berharga, baik dalam hal proses belajar anak, daya serap anak, maupun struktur dan efektivitas penyajian Materi Tema, untuk diperbaiki pada tahun berikutnya.

Jika mencermati objek-objek pameran, pengunjung dapat merasakan bahwa tema-tema belajar tidak mendapat porsi yang sama dalam pameran. Dalam pameran kali ini, tema yang menonjol di ruang pameran TK adalah Tema Makanan. Sedangkan di ruang pameran SD, Tema Negara Indonesia tampak menonjol.

Eksplorasi Materi Tema

Porsi penyajian tema-tema memang tidak setara. Namun, seluruh karya anak yang dipamerkan merupakan satu rangkaian objek observasi pembelajaran, termasuk kedalaman eksplorasi Materi Tema. Di ruang pameran TK, eksplorasi Materi Tema Makanan tampak berlimpah, mulai dari sumber-sumber zat makanan atah bahan makanan, alat-alat mengolah makanan sampai alat-alat untuk penyajian makanan.

Di ruang pameran SD, situasinya sedikit berbeda. Indikasi kedalaman eksplorasi tema tidak lagi bertumpu pada benda-benda hasil kreativitas anak yang berkaitan dengan tema. Eksplorasi itu terekam lebih banyak dalam buku-buku jurnal yang dipajang di rak-rak pameran, maupun kertas-kertas kerja yang dipasang di dinding-dinding ruang pameran. Sehingga, meskipun secara visual Tema Negaraku tampak menonjol, tidak dengan sendirinya hal menunjukkan bahwa Tema Negaraku tereksplorasi paling mendalam.

Ya, buku-buku jurnal anak adalah rapor otentik hasil pembelajaran anak. Buku jurnal adalah rekaman otentik bagaimana anak menyatakan apa yang dipelajarinya, bukan sekadar angka-angka yang didapat dari jawaban-jawaban benar atas pertanyaan-pertanyaan dalam soal ujian. Dalam pembelajaran dengan Metode Sentra, Jurnal menjadi elemen penting, dan dibiasakan sejak periode belajar paling dini. Karena itu, begitu memasuki ruang pameran TK, pengunjung sudah dapat melihat buku-buku jurnal anak yang telah dijilid rapi.

BUKU JURNAL ANAK TK BATUTIS AL-ILMI. Pembiasaan sejak dini mengekspresikan apa yang dipelajari

Motivasi dan Kemandirian Belajar

Dari perbincangan bersama Kepala Sekolah dan para guru SD Batutis Al-Ilmi seusai pameran, Redaksi Metode Sentra mendapatkan gambaran tentang proses pertumbuhan motivasi belajar anak. Meskipun tiap-tiap anak berbeda pertumbuhannya, ada pola yang muncul dalam pengalaman Sekolah Batutis Al-Ilmi. Pada umumnya, motivasi belajar mandiri anak mulai terlihat stabil pada periode akhir semester kedua Kelas IV SD.

Dengan motivasi belajar yang stabil, anak-anak tidak hanya kooperatif dalam mengikuti program atau kegiatan belajar yang telah direncanakan guru. Lebih dari itu, anak memiliki pemahaman dan kesadaran tentang mengapa dia harus belajar. Itu merupakan basis yang kuat menuju kemandirian belajar pada jenjang-jenjang sekolah berikutnya.

Bagaimanapun motivasi belajar dan kemandirian belajar adalah aspek mendasar dalam hal keberhasilan belajar anak dari usia dini hingga dewasa. Motivasi belajar yang otentik tidak mudah goyah oleh bermacam-macam gangguan. Pada gilirannya, dengan motivasi belajar yang terbangun secara kokoh sejak dini, anak memiliki kemandirian belajar, determinasi yang kuat akan apa yang harus dipelajari untuk bekal kehidupannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *