Metode Sentra atau Beyond Centers and Circle Time (BCCT) adalah model kurikulum pendidikan anak usia dini yang dirancang oleh Pamela C. Phelps, Ph.D., seorang pendidik yang telah 40 tahun lebih menekuni bidang pendidikan anak usia dini. Phelps mengembangkan BCCT di lembaga pendidikan dan penelitian Creative Center for Childhood Research and Training (CCCRT), Tallahassee, Florida, Amerika Serikat. Di dalam lembaga itu, ia mengelola Creative Pre-School, yang sejak tahun 1989 ditetapkan sebagai sebuah model negara bagian dan kemudian nasional sekolah usia dini inklusif, yang dapat melayani anak-anak berkebutuhan khusus.

Metode Sentra atau BCCT dirancang untuk memenuhi kebutuhan tiga jenis main sebagai moda belajar anak usia dini. Ketiga jenis main yang dibutuhkan anak usia dini itu adalah main sensorimotor, main pembangunan, dan main peran (Sara Smilansky, 1992, dan Charles H. Wolfgang, 1991). Pemenuhan kebutuhan ketiga jenis main dijalankan secara terpadu dan terukur sesuai dengan tahap-tahap perkembangan anak. Ketiga jenis main itu disediakan di Sentra-Sentra.

Nama-nama Sentra

Bila dilihat secara fisik, Sentra-Sentra merupakan unit-unit arena bermain yang berisi bermacam-macam alat permainan edukatif (APE). Dalam konsep murni yang dirancang Phelps, kebutuhan tiga jenis main dipenuhi di Sentra Bahan Alam, Sentra Persiapan, Sentra Main Peran Kecil, Sentra Main Peran Besar, Sentra Seni, dan Sentra Balok. Dengan pengelompokan APE-APE dan pengorganisasian aktivitas-aktivitas mainnya secara spesifik, masing-masing Sentra memiliki penekanan tujuan yang berbeda-beda dalam membangun aspek-aspek tumbuh-kembang anak. Namun demikian, setiap Sentra pada prinsipnya menyediakan kesempatan anak untuk melakukan ketiga jenis main.

 

 

 

Setiap hari, setiap guru Sentra menyediakan rangkaian aktivitas main selama satu hari belajar bagi anak-anak. Rangkaian aktivitas itu harus direncanakan dengan matang agar dapat memfasilitasi proses pembangunan kemampuan anak secara menyeluruh sesuai dengan tahap-tahap perekembangannya. Pembangunan kemampuan itu mencakup keenam aspek curricular domain, yaitu psikomotor, afeksi, kognisi, sosial, bahasa, dan aestetika.

Dalam merencanakan pengalaman main, guru memperhatikan dengan teliti kecukupan jumlah aktivitas main (densitas) dan lama proses bermain (intensitas). Pengalaman-pengalaman main dirancang dalam rangka mendukung anak melalui tahap-tahap perkembangannya secara sehat dan lancar. Penerapan rencana guru dalam kegiatan Sentra dimulai dari penataan lingkungan main yang memperhatikan dengan cermat masalah keamanan, kenyamanan dan kelancaran bermain bagi anak.

Selama anak bekerja atau beraktivitas, guru menjalankan fungsinya sebagai fasilitator yang memberi pijakan-pijakan (scaffolding) sebelum main, saat main, dan sesudah main. Dengan demikian, bentuk aktivitas guru adalah indirect teaching. Dalam fungsi ini, guru harus cermat memutuskan kapan saat yang tepat, dalam situasi seperti apa, dan seberapa jauh melibatkan diri atau memberikan feedback pada proses kerja anak.

Keberadaan Tema dalam Metode Sentra

Pengalaman-pengalaman main dibingkai dengan tema, yang berfungsi untuk mengikat berbagai pengetahuan dan konsep-konsep dasar yang dialirkan secara terstruktur pada anak. Dengan demikian, perencanaan guru sesungguhnya sudah dimulai sejak sebelum awal tahun belajar, saat merumuskan secara komprehensif Materi Tema. Setiap tahun, satuan-satuan tema, strukturnya, dan substansinya dievaluasi berdasarkan hasil observasi harian atas penyerapan Materi Tema.

Ya, fungsi fasilitator pembelajaran juga mencakup tugas mengobservasi perkembangan setiap anak secara individual. Secara garis besar, observasi yang dilakukan guru meliputi pembangunan sikap-sikap, pembangunan kecerdasan jamak (multiple intelligences), pemenuhan tiga jenis main, dan kemajuan dalam tahap perkembangan. Hasil observasi dituangkan dalam tabel observasi harian, dan pada akhir semester ditransformasi ke dalam peta perkembangan yang dinamakan curricular domain web.

Untuk dapat menjalankan semua fungsi itu dengan benar dan efektif, dalam pengalaman Sekolah Batutis Al-Ilmi, setiap guru memerlukan proses berlatih dan praktik bertahap-berkesinambungan. Setiap selesai mengikuti satu modul pelatihan, baik di Sekolah Batutis Al-Ilmi sendiri maupun di Sekolah Al-Falah, guru perlu mengaplikasikannya selama kurang lebih tiga bulan, untuk kemudian beranjak ke modul berikutnya, yaitu mengikuti pelatihan dan mengaplikasikan dan seterusnya hingga tuntas seluruh modul.

Meskipun demikian, secara prinsip, setiap guru yang sudah mengikuti satu modul pelatihan sudah dapat menjalankan fungsi sebagai pengorganisasi kegiatan-kegiatan Sentra dari kedatangan anak sampai tuntasnya kegiatan selama satu hari. Modul-modul selanjutnya merupakan penajaman pengetahuan dan keterampilan, termasuk di dalamnya kemampuan dan keterampilan teknis dalam menyusun kurikulum (Materi Tema), menyusun lesson plan, menjalankan observasi multiaspek, mengerjakan curriular domain web dan lain-lain.

Riwayat Metode Sentra (BCCT) di Indonesia

BCCT pertama kali dibawa ke Indonesia pada tahun 1996 oleh drg. Wismiarti, yang melakukan serangkaian perjalanan keliling ke beberapa negara dalam rangka mencari sebuah model pendidikan anak usia dini. Melalui Sekolah Al-Falah yang didirikannya, Ibu Wismi menerapkan BCCT dengan melibatkan langsung Phelps sebagai konsultan. Untuk kebutuhan di Indonesia, atas persetujuan Phleps, Sekolah Al-Falah menambahkan satu Sentra dari enam Sentra yang ada dalam konsep murni BCCT, yaitu Sentra Iman dan Taqwa (Imtaq).

Pada tahun 2002, Dr. Fasli Jalal, yang saat itu masih menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional, melihat langsung eksperimen BCCT yang diselenggarakan Sekolah Al-Falah. Fasli, yang di kemudian hari menjabat sebagai Wakil Menteri Pendidikan Nasional, membawa model BCCT ke Departemen Pendidikan Nasional. Singkat cerita, terjadilah kerja sama segitiga, yaitu Sekolah Al-Falah, Departemen Pendidikan Nasional dan Phelps, untuk merancang penyebaran BCCT di seluruh Indonesia. Kerja sama tersebut menghasilkan pelatihan sekitar 1.000 tutor BCCT, dengan bekal enam buku modul pelatihan, yang diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2006.

Keenam buku itulah buku pertama di Indonesia yang berisi pedoman tentang penerapan BCCT. Namun, sebagai modul pelatihan, keenam buku tersebut lebih ditujukan untuk tutor, hanya berisi uraian global tentang paradigma dan prinsip-prinsip BCCT, serta penjelasan sekilas tentang urutan kegiatan. Selama bertahun-tahun upaya penyebaran BCCT di Indonesia hanya mengandalkan keenam buku modul tersebut.

Baru pada tahun 2011, Sekolah Al-Falah, yang hingga kini masih melibatkan Phelps sebagai konsultan, menerbitkan empat jilid buku “Pedoman Pendidikan Sentra untuk PAUD”, yang memuat uraian lebih rinci penyelenggaraan BCCT. Keempat buku tersebut adalah untuk Sentra Persiapan, Sentra Seni, Sentra Main Peran, dan Sentra Balok. Penggarapan keempat buku tersebut melibatkan tim penulis dan editor Sekolah Batutis Al-Ilmi, yang dipimpin oleh Bapak Yudhistira ANM Massardi.

Metode Sentra di Sekolah Batutis Al-Ilmi

Sekolah Batutis Al-Ilmi, yang sejak 2006 menerapkan BCCT standar Sekolah Al-Falah, menerbitkan Majalah Media TK Sentra pada tahun 2010, dalam rangka turut membantu penyebarluasan BCCT. Namun, akibat keterbatasan sumberdaya, sekolah gratis untuk kaum dhu’afa yang berlokasi di Pekayon, Bekasi, itu mengistirahatkan penerbitan majalah setelah tujuh volume. Ketujuh volume tersebut masing-masing memuat pedoman terperinci Sentra Persiapan, Sentra Bahan Alam, Sentra Seni, Sentra Balok, Sentra Imtaq dan Sentra Main Peran, serta pembahasan khusus tentang Jurnal Pagi.

MAJALAH MEDIA PANDUAN SENTRA

 

BUKU PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN METODE SENTRA

Sekolah Batutis Al-Ilmi, yang secara konsisten mengacu pada praktik penerapan BCCT Sekolah Al-Falah dan di bawah bimbingan Ibu Wismi, menerbitkan Buku Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra pada tahun 2012. Buku ini ditulis oleh Pembina Yayasan Batutis Al-Ilmi Bapak Yudhistira ANM Massardi dan Chief Trainer Metode Sentra Sekolah Batutis Al-Ilmi, Ibu Siska Y. Massardi, bersama tim penulis dan editor Sekolah Batutis Al-Ilmi. Buku dengan Kata Pengantar Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec., ini memuat secara lengkap panduan penyelenggaraan enam Sentra dalam satu buku tunggal.

Selain pedoman rinci tentang penyelenggaraan Sentra-Sentra, buku ini dilengkapi dengan pembahasan komprehensif tentang aspek-aspek yang terkait langsung dengan pendidikan anak usia dini, antara lain Psikologi Perkembangan, Neurosains, Kecerdasan Jamak (Multiple Intelligences), dan Tiga Jenis Main.

Kehadiran buku ini diharapkan turut membantu penyebaran Metode Sentra ke seluruh Indonesia, sehingga anak-anak usia dini Indonesia berkesempatan menapaki tahap perkembangannya secara sehat dan lancar. Bersama Metode Sentra, anak belajar dengan bahagia, membangun diri menjadi generasi yang sehat, cerdas, mandiri, berakhlak mulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *