Foto Kegiatan Sentra Persiapan

[Foto: KEGIATAN DI SENTRA PERSIAPAN. Alat main tidak melulu yang berhubungan langsung dengan keaksaraan.]

Kemunculan Keaksaraan

Menurut cara pandang tradisional, belajar keaksaraan (literacy) bermula saat anak berinteraksi langsung dengan alat tulis atau bahan bacaan, seperti mengeja huruf, membaca, menulis dan berhitung. Seolah-olah baru saat itulah anak mulai membangun kemampuan keaksaraan. Namun, kini kian banyak orangtua yang sudah memahami bahwa membacakan buku atau mendongengkan cerita menjelang waktu tidur adalah bagian dari pembelajaran keaksaraan, walaupun anak belum bisa membaca.

Bahkan, para ahli menunjukkan pembangunan kemampuan keaksaraan sesungguhnya sudah berproses sejak aktifnya fungsi pendengaran anak dalam kandungan, sekitar 25 pekan usia kehamilan.* Stimulus suara ibu dan orang-orang di dekatnya membantu anak memperkaya perbendaharaan simbol-dan-makna, yang menjadi unsur dasar kemampuan keaksaraan. Dengan pemahaman itu, maka kemampuan keaksaraan seyogyanya tidak dipahami secara parsial.

Artinya, pembangunan kemampuan keaksaraan membutuhkan penyiapan pondasi yang lengkap agar benar-benar bermakna. Perbendaharaan simbol-dan-makna mencakup dimensi yang luas, mulai dari klasifikasi bentuk-warna-ukuran pada ranah konkret sampai hubungan-hubungan rasional pada ranah abstrak. Semua itu perlu dibangun dengan kuat tahap demi tahap agar kemampuan keaksaraan memiliki basis yang kokoh.

Ikatan Kuat dengan Pikiran Anak

Tanpa pondasi yang lengkap dan kokoh, pengajaran keaksaraan berisiko membuat anak hanya mampu melafalkan (recite), tanpa memahami apa yang dibacanya. Perlu waspada, tak sedikit buku latihan membaca menyajikan deretan suku kata kumpulan kata tanpa makna. Padahal, seperti kata ahli pendidikan Selandia Baru Sylvia Asthon Warner, bukan hanya harus bermakna, kata pertama dalam pembelajaran keaksaraan harus memiliki ikatan kuat dengan pikiran anak. Kata itu muncul dari dalam pikiran anak.

Jadi, seyogyanya bukan kosakata yang didatangkan entah dari mana. Galilah kata pertama untuk keaksaraan itu dari pikiran anak, entah itu binatang piaraan, buah kesukaan, makan favorit, …. apa saja. Dengan mengutamakan sesuatu yang muncul dalam pikiran anak, pembelajaran keaksaraan melekat kuat dan mendorong anak untuk terus mencari dan membangun kemampuan dengan minat yang tinggi, hingga mencapai kemampuan kebahasaan serta berpikir logis.

Pada dasarnya, kemampuan keaksaraan adalah sebuah proses sepanjang hidup (lifelong) yang bermula sejak anak lahir. Proses itu mencakup kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Seperti diungkapkan pada bagian awal tulisan ini, proses itu berlangsung sejak anak berada dalam rahim ibu.

Pada fase pranatal, saat anak mendengarkan suara, sesungguhnya dia mulai mengembangkan kemampuan menangkap simbol (salah satu bagian dari kemampuan komunikasi). Kemampuan mendengar itu menjadi prasyarat mutlak untuk menjejak ke tahap-tahap kemampuan lanjut menuju kemampuan keaksaraan.

Kegiatan Terpadu di Sentra-Sentra

Seperti apakah praktik pembelajaran keaksaraan dalam Metode Sentra? Para guru yang menjalani Pelatihan Metode Sentra di Sekolah Batutis Al-Ilmi akan melihat bahwa pembangunan keaksaraan tidak hanya berlangsung di Sentra Persiapan, yang sebagian orang menyebutnya Sentra Literasi (Literacy Center). Disebut “Persiapan” karena Sentra ini dipandang sebagai wahana utama untuk “menyiapkan” anak dari jenjang prasekolah ke jenjang Sekolah Dasar.

Sentra Persiapan menyediakan aneka alat bermain yang tidak melulu berhubungan langsung dengan aksara. Di dalamnya tidak hanya ada alat main stempel atau puzzle huruf dan angka dan sejenisnya. Di dalamnya juga ada aneka alat main yang ditujukan untuk membangun kemampuan klasifikasi warna-bentuk-ukuran seperti ronce, tangram, hama, bermacam-macam puzzle dan lain-lain.

Ketika anak mampu mengerjakan pekerjaan seriasi, seperti menyusun ronce dengan pola yang menerapkan ketiga variabel (bentuk, warna, dan ukuran), maka itu pertanda dia memiliki basis penting untuk memasuki jenjang aksara. Namun, itu saja tidak cukup. Sentra Persiapan tidak berdiri sendiri. Di Sentra Bahan Alam, anak berlatih menguatkan otot-otot tangannya. Di Sentra Seni anak berlatih koordinasi motorik kasar dan halusnya. Selain itu, kegiatan Jurnal Pagi sebagai wahana menuangkan isi pikiran dan perasaan, anak berkesempatan mendapatkan pengalaman langsung dengan alat-alat tulis.

Semua itu menjadi satu kesatuan proses terpadu, sesuai tahap perkembangan, tidak terburu-buru dan tidak sepotong-sepotong. Setiap perkembangan yang berlangsung di semua Sentra diobservasi dan direkam oleh guru. Setiap hambatan diidentifikasi dan dicari solusinya. Hasil observasi ditelaah untuk menghasilkan pijakan dalam merencanakan kegiatan-kegiatan berikutnya. Dan, di atas semua itu, setiap guru tak pernah berhenti belajar. Sebab, di sekolah, bersama guru yang belajarlah anak benar-benar belajar.

(Baca juga artikel terkait: Kontoversi Tes Calistung untuk Calon Murid SD)

*Boysson-Bardies (2001), How Language Comes to Children, [sebagaimana diuraikan dalam Bahasa Mencerdaskan Bangsa, Yanto Musthofa (2017)]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *