Rutinitas Guru TK/RA

Pada semester genap, para guru Taman Kanak-Kanak (TK) atau Rudhatul Athfal (RA) biasanya punya agenda khusus untuk murid-murid kelompok B, yaitu les untuk menggenjot kemampuan baca-tulis-hitung (calistung). Kebanyakan, kegiatan itu diadakan atas permintaan orangtua. Namun, tak sedikit TK atau RA yang memang sengaja mengadakannya demi menjaga “popularitas”. Ada semacam “tuntutan pasar” bahwa anak lulusan taman kanak-kanak harus sudah bisa calistung, karena kalau tidak, ia terhadang di tes penerimaan murid SD.

Begitulah silang sengkarut pendidikan usia dini dan sekolah dasar yang masih menggejala di banyak tempat. Guru taman kanak-kanak akhirnya menempuh jalan pintas mengajarkan calistung secara formal, bahkan dengan memberi pekerjaan rumah, alias PR. Hal ini diperparah dengan kekacauan perdebatan “apakah tidak boleh mengajarkan keaksaraan pada anak usia dini?”

Ada yang berargumentasi — biasanya diperkuat dengan bukti kehebatan produk-produk penggenjot kemampuan baca—bahwa anak usia 4 tahun sudah bisa diajari membaca dengan baik, “asalkan anak senang melakukannya”. Pembangunan kemampuan KEAKSARAAN pada anak usia dini bukan hanya boleh, melainkan harus. Bahkan, proses itu harus dimulai sejak masa paling awal kehidupan anak.

Pelajaran Formal Calistung

Yang jadi masalah adalah pengajaran keaksaraan melalui pengajaran calistung secara formal. Pengajaran formal maksudnya menjadikan calistung sebagai pelajaran yang terlepas dari kebutuhan anak sesuai dengan tahap-tahap perkembangan psikologis dan kognitif anak. Sebagai pelajaran, calistung diajarkan melalui latihan-latihan (drill) mengenal dan mengeja abjad-angka, sampai membaca, menulis, dan menjumlahkan.

Salah satu kerugiannya adalah kesempatan anak menjadi berkurang untuk bereksplorasi melalui bermain dalam rangka membangun segenap aspek tumbuh-kembang dirinya. Sedangkan bermain adalah moda atau cara alamiah belajar anak usia dini. Drill calistung seakan-akan menjadi kebutuhan utama yang harus dipenuhi, sedangkan kebutuhan akan main sensorimotor, main pembangunan dan main peran menjadi unsur sampingan. (Untuk mengetahui lebih lanjut tentang jenis-jenis bermain yang dibutuhkan anak, silakan baca artikel 5 Hal Pokok dalam Pendidikan Anak Usia Dini)

Selain cenderung tidak sejalan dengan tahap perkembangan anak, kegiatan les seperti itu sebetulnya mengabaikan ketentuan Pasal 69 ayat 5 Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaran Pendidikan. Bunyinya: “Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain.”

Karena itu, penyelenggara pendidikan anak usia dini (PAUD) harus berkarakter kuat, berani melawan kehendak orangtua, yang berpotensi menzholimi anak. Sekolah tidak perlu takut kehilangan murid. Sementara, di pihak lain, orangtua pun harus berani melawan tuntuntan sekolah SD yang melanggar peraturan pemerintah tadi, dan memilih sekolah lain yang lebih peduli pada hak-hak anak untuk bahagia belajar dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Guru bisa memengaruhi cara pandang orangtua, agar tidak silau pada “kesempatan diterima” di SD/MI tertentu, yang belum tentu memuliakan hak dasar anak-anak untuk belajar dengan bahagia sesuai dengan fitrah tahap perkembangan mereka.

Pasal 69 ayat 5 Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaran Pendidikan: “Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain.”

 

Pembangunan Kemampuan Keaksaraan dalam Metode Sentra

Pada TK/RA/PAUD yang sudah menerapkan Metode Sentra, orangtua murid cenderung kooperatif karena: 1) komunikasi dan konsultasi rutin menyangkut progress perkembangan anak menjadi keharusan yang sudah dimengerti urgensinya, sehingga setiap problem atau kendala yang dihadapi masing-masing anak dapat ditangani pada kesempatan pertama (at the earliest opportunity. 2) model asesmen atas perkembangan individual anak yang dibuat guru cukup mudah dimengerti orangtua, dengan parameter-parameter yang jelas dan menyeluruh, dan didasarkan pada hasil observasi harian yang terperinci, kualitatif dan spesifik. 3) orangtua memperoleh gambaran yang jelas tentang tujuan dan manfaat setiap unsur kegiatan yang dilalui anak selama belajar melalui main di sentra-sentra.

Memang tidak mudah. Namun, sekurang-kurangnya, dari lingkup terkecil, para guru PAUD bisa melakukan sesuatu demi menyelamatkan anak-anak usia dini. Perlu dibangun pemahaman bersama bahwa tugas guru PAUD bukan memudahkan guru SD agar tidak perlu lagi mengajari anak mampu baca-tulis hitung..

Lebih dari itu, seperti yang sudah dibuktikan buktikan oleh para guru , beragam jenis main yang disediakan di Sentra-Sentra punya efek yang sangat kuat pada kemampuan keaksaraan anak. Alhamdulillah, anak-anak yang lulus dari TK kami (kecuali yang di bawah tahap perkembangan) tidak ada masalah keaksaraan. Anak lulus dari kelompok B yang belum bisa membaca sangat mungkin disebabkan kemampuannya dalam klasifikasi bentuk-warna-ukuran masih lemah. Itu bisa dibantu dengan penguatan melalui aneka permainan (di Sentra Persiapan) seriasi seperti ronce, tangram, hama dan lain-lain. Selain itu, anak lulus dari kelompok B belum bisa menulis karena otot-otot motori kasarnya belum kuat, otot-otot motorik halusnya belum terlatih, dan koordinasi otot motorik kasar dan halus tidak terbangun. Itu bisa dibantu dengan berbagai kegiatan bermain di Sentra Bahan Alam dan Sentra Seni.

Benar, dan sudah terbukti bahwa anak berusia 4 tahun sudah bisa digenjot mahir membaca, menulis dan menghitung. Namun, karena tidak memiliki pondasi yang kokoh untuk menjadi kemampuan keaksaraan yang bermakna. Anak mampu melafalkan tulisan, namun tidak mampu memahami apa yang diucapkannya. Di sinilah pentingnya memastikan pembangunan kemampuan keaksaraan menjadi bagian dari proses menyeluruh dan terpadu dengan pembangunan aspek-aspek lain dari tumbuh-kembang anak. Masalah pembangunan kemampuan keaksaraan dibahas secara mendalam dalam Majalah Media Panduan Sentra Volume 7, yang mengetengahkan tema utama Jurnal Pagi.

One thought on “Kontroversi Tes Calistung untuk Calon Murid SD”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *