Ingin Anak Mandiri, tapi…

Di satu sisi, para ibu biasanya ingin anaknya cepat mandiri. Namun di sisi lain, anak justru tak mendapat kesempatan berlatih menjadi mandiri. Itu terjadi jika para ibu lebih senang jalan pintas pragmatis, alias tak sabar “menikmati” prosesnya. Misalnya, karena tak sabar melihat kamar anaknya berantakan, tanpa bicara atau berkomunikasi dengan anak, si ibu langsung menyingsingkan lengan, berjibaku membereskan semuanya.

Dalam banyak kesempatan, baik saat memandu pelatihan maupun menjadi narasumber seminar, Chief Trainer Metode Sentra Sekolah Batutis Al-Ilmi, Ibu Siska Y Massardi, kerap mendapat pertanyaan dari peserta: “Kenapa ya sulit sekali menyuruh anak untuk merapikan mainan setelah bermain atau membereskan kamar yang berantakan, dan sejenisnya?” Biasanya, Ibu Siska menjawabnya dengan bertanya kepada peserta, “Apakah Ibu termasuk yang punya hobi main sulap?”

IBU SISKA Y MASSARDI MEMANDU PELATIHAN METODE SENTRA. Beri kesempatan anak untuk belrtanggngjawab

 

Tentu yang dimaksud di sini bukan keterampilan main sulap seperti dalam pertunjukan hiburan. Bukan. Ini adalah istilah untuk ibu yang rajin membuat anak tidak belajar melakukan banyak hal. Biasanya, atas nama “kasihan” atau bahkan “kasih sayang”, ibu di rumah langsung bertindak saat melihat keadaan di rumah atau di kamar anak semrawut. Tempat tidur tidak rapi. Lemari pakaian awut-awutan, atau mainan bergeletakan setelah anak bermain. Simsalabim. Saat anak kembali ke kamarnya, semua sudah rapi kembali seperti disulap.

Frasa “kasih sayang” di atas sengaja ditulis dalam tanda petik. Sebab, kebiasaan seperti itu sejatinya adalah bentuk “seolah-olah kasih sayang”, alias bukan kasih sayang yang sesungguhnya. Seolah-olah, karena dengan tindakan cepat ala “Ibu Tukang Sulap”, banyak kesempatan berharga bagi anak menjadi lenyap.

Apa saja yang hilang?

  1. Anak tak mendapat pengalaman nyata untuk memahami hal sederhana bahwa mainan atau kamar yang berantakan memerlukan pekerjaan merapikan agar menjadi rapi kembali. Berkat aksi “main sulap” ibu, anak selalu menjumpai bahwa mainan atau kamar yang berantakan menjadi rapi dengan sendirinya sesudah dia tinggalkan dalam kadaan berantakan.
  2. Anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan fisik, atau bahasa ilmiahnya, kecerdasan ragawi (bodily-kinestetic intelligence). Kecerdasan ragawi adalah kebutuhan dasar anak dalam mengarungi kehidupan.
  3. Anak kehilangan kesempatan berharga untuk mengasah kecerdasan spasial (spatial intelligence). Menata kamar atau merapikan mainan adalah sarana yang penting untuk membangun kecerdasan spasial. Jika terbiasa menata kamar atau merapikan mainan, anak berkesempatan berkreasi dan berimajinasi untuk menghasilkan penataan yang rapi dan indah.
  4. Anak kehilangan pengalaman konkret untuk memahami mengapa dia harus bertanggungjawab.

Banyak, ya, ternyata? Nah, jika tidak ingin hal-hal berharga bagi anak itu hilang, maka berikanlah kepada mereka. Berikan kesempatan kepada anak untuk melakukan apa yang sudah bisa dan sudah harus dilakukan oleh anak. Jika tidak, ya jangan berharap anak cepat mandiri.

Beres-Beres dalam Metode Sentra

Maka dari itu, pada setiap rangkaian kegiatan Sentra dalam model pembelajaran Metode Sentra, Beres-beres menjadi bagian tak terpisahkan. Beres-beres, atau membereskan mainan sesudah bermain, adalah satu bagian dari prosedur kerja yang dibiasakan pada anak. Setiap anak (sekali lagi, setiap anak) terlibat dalam membereskan alat bermain, kursi, meja dan tentu saja perlengkapan pribadi mereka sesudah berkegiatan di Sentra.

KEGIATAN BERES-BERES DI SENTRA IMTAQ. Membangun kemandirian anak

 

Dengan melibatkan (bukan menyuruh) saat kegiatan Beres-Beres, guru membantu pengaktifan kerja otak anak. Kerja otak? Ya. Saat melakukan Beres-beres, otak anak bekerja, antara lain dalam hal klasifikasi benda-benda. Juga turut bekerja adalah bagian otak yang bertanggungjawab atas koordinasi bagian-bagian tubuh dalam gerak (mata, tangan, kaki, otot, dll.). Selain sikap tanggungjawab, kegiatan Beres-Beres yang diupayakan dalam suasana menyenangkan juga mengalirkan sikap kerja sama pada anak.

Dengan semua itu, maka anak lebih berpeluang untuk membangun sikap kemandirian, bukan kemandirian artifisial yang hanya muncul saat diperintah. Sikap mandiri perlu dibangun dengan pengalaman-pengalaman nyata. Jika hanya disuruh untuk mandiri, maka sesungguhnya raga, tangan dan kaki anak bekerja berdasarkan kerja otak ibu, ayah, atau guru. Akibatnya di kemudian hari, anak tidak memiliki inisiatif, bahkan untuk melakukan hal-hal yang menjadi tanggungjawabnya sendiri.

Masih ingin menjadi “tukang sulap” di rumah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *