Pengertian Recalling dalam Metode Sentra

Recalling, secara harfiah, berarti mengingat kembali.Namun, dalam model pembelajaran Metode Sentra, recalling adalah salah satu rukun dari rangkaian kegiatan belajar satu hari di sekolah. Ia menjadi kegiatan wajib di bagian akhir pembelajaran. Dalam Metode Sentra, atau yang biasa dikenal dengan BCCT (Beyond Centers and Circle Time), recalling adalah salah satu sesi yang dilakukan dalam saat lingkaran (circle time).

 

Recalling di Sentra Main Peran TK Batutis Al-Ilmi, Bekasi

Recalling adalah kegiatan memberi kesempatan setiap anak mengemukakan semua hal yang dialami, dipelajari, dipikirkan, dirasakan, dan dimengerti dari proses selama satu hari sejak kedatangannya di sekolah. Secara bergantian, dipandu oleh guru, semua anak dalam satu kelas/kelompok menceritakan kembali pengalamannya. [Untuk mengetahui lebih jauh tentang model pembelajaran Metode Sentra, silakan baca dalam buku Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra (Yudhistira & Siska Massardi, 2012).]

Jadi, subjek recalling adalah pengalaman individual setiap anak selama proses belajar. Recalling tidak sama dengan evaluasi belajar, karena recalling sendiri merupakan bagian dari proses belajar. Banyak unsur pembelajaran yang bisa diperoleh dari kegiatan recalling, bukan semata-mata yang berada dalam ranah kognitif, melainkan juga psikologis dan sosial.

Meskipun demikian, dari kegiatan recalling, guru mendapatkan bahan yang sangat berharga untuk mengevaluasi seberapa jauh keberhasilan pembelajaran. Dari apa yang dikemukakan anak, guru bisa mencatat, misalnya, apa saja materi dalam perencanaan pembelajaran (lesson plan) yang sudah terserap dan mana yang belum.

Namun sekali lagi, recalling bukan hanya sarana untuk membangun aspek kognitif seperti menghafal materi pelajaran. Sebab, melalui kegiatan recalling, anak juga membangun kemampuan psikologis dan sosialnya. Berikut ini adalah beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari kegiatan recalling:

 

  • Pertama, anak membangun sikap percaya diri dalam menyampaikan isi pikiran dan perasaan.
  • Kedua, anak belajar menghargai orang lain; termasuk di dalamnya belajar antre, mendengarkan pembicaraan dan pendapat orang lain.
  • Ketiga, anak belajar fokus dan disiplin dalam prosedur kelompok, termasuk di dalamnya berdisiplin waktu.
  • Keempat, dengan arahan guru, anak belajar berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan benar. [Mengenai pedoman berbahasa bagi guru saat memandu recalling, silakan baca dalam buku Bahasa Mencerdaskan Bangsa (Yanto Musthofa, 2017).
  • Kelima, dengan keragaman pengalaman anak dalam satu kelompok, setiap anak mendapatkan pengayaan pembelajaran. Sehingga, secara tidak langsung, recalling adalah sarana penguatan memori yang efektif.
  • Keenam, melalui kegiatan recalling, guru berkesempatan meluruskan atau membetulkan konsep yang terserap anak dalam proses pembelajaran.

Dari uraian di atas, kita mendapatkan gambaran bahwa, manfaat recalling memang tidak semata-mata dalam urusan kognitif. Tapi, recalling merupakan sentuhan akhir yang efektif dalam menguatkan memori pembelajaran anak.

Penguatan itu dimungkinkan karena proses recalling lebih menempatkan anak sebagai subjek “aku belajar apa”, ketimbang “apa yang aku pelajari”. Penempatan anak sebagai subjek pembelajar lebih memenuhi kebutuhan akan belajar dengan senang (happy learning) ketimbang, misalnya, instruksi untuk menghafal materi pelajaran. Sehingga, pada saat yang sama hal itu juga membangun motivasi internal yang lebih murni pada diri anak untuk belajar.

Mari kita lihat perbedaannya. Menghafal (memorizing) adalah upaya menempatkan informasi ke dalam memori. Upaya itu biasanya didorong oleh tuntutan eksternal, semisal menghadapi ujian. Selain itu, hafalan biasanya lebih bersifat parsial atau item-item yang terpisah.

Sebaliknya, recalling adalah “memanggil memori” yang sudah terekam dalam otak untuk disampaikan atau diekspresikan kepada orang lain. Memori itu menyatu dengan atau menjadi bagian dari konteks atau ruang lingkup pengalaman personal. Konteks atau ruang lingkup itulah sesungguhnya yang membantu proses “pemanggilan memori”. Artinya, memori itu tidak berdiri sendiri.

Maka, sekali dayung enam tujuh pulau terlampaui. Karena itu, jadikan recalling sebagai bagian yang menyenangkan dalam pembelajaran anak.

One thought on “Jadikan Recalling Bagian Menyenangkan dalam Belajar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *