Pengaruh Ibu pada Kecerdasan Anak

Kasih sayang ibu memilikipengaruh besar pada kecerdasan anak. Pengaruh itu paling kuat terutama pada periode paling awal kehidupan anak. Karena itu, jika berharap kecerdasan anak terbangun dengan baik, maka perhatikanlah periode usia dini.

Cobalah ketik di mesin pencari Google dengan kata kunci “the first 40 days”. Maka, Google akan segera menyarankan kata lanjutan “after birth”. Rupanya, dalam tradisi di banyak negara, masa 40 hari setelah kelahiran begitu istimewa. Ada yang menyebutnya sebagai masa “pengurungan” (confinement) bagi ibu agar mengistimewakan bayi.

Masa itu juga dikaitkan dengan proses pemulihan kekuatan ibu, selain untuk menguatkan ikatan emosionalnya dengan bayi. Umumnya, pada masi itu sang ibu menjalani masa nifas, atau keluarnya darah dari rahim akibat proses persalinan. Bagi para ibu yang beragama Islam, itu berarti “dispensasi” untuk tidak melakukan ibadah-ibadah seperti shalat dan (jika dalam bulan Ramadhan) berpuasa.

Pendidikan paling mendasar

Dari sudut pandang pendidikan, itulah periode khusus yang diperuntukkan bagi bayi. Dalam hari-hari pertama kehidupannya di dunia, bayi membutuhkan dekapan kasih sayang ibu, tak boleh dikompromikan dengan kepentingan-kepentingan lain. Sebab, pada periode itulah bayi sedang membangun kepercayaan (trust) dalam dirinya bahwa dunia yang ia tinggali ini adalah dunia yang aman dan nyaman.

Kini, semakin banyak hasil kajian keilmuan yang menunjukkan betapa masa-masa paling awal kehidupan anak memiliki peranan sangat besar dalam menentukan masa depannya. Kasih sayang ibu dalam bentuk kehadiran, sentuhan, belaian, bicara dan pemberian rasa nyaman serta aman berpengaruh besar pada proses pembangunan otak bayi. Bisa dikatakan itulah sesungguhnya pendidikan yang paling dasar bagi anak, lebih mendasar dari sekolah dasar.

Edisi terbaru jurnal Young Children yang diterbitkan oleh National Association for Education of Young Children (NAEYC) mengetengahkan sajian utama tentang Pikiran-pikiran Anak Usia Dini (Young Minds). Mari simak artikel pembuka pada Volume 72 No.2 (Mei 2017) itu, yang berjudul Caring Relationships: The Heart of Early Brain Development (Hubungan-hubungan Penuh Kasih Sayang: Jantung dari Perkembangan Aawal Otak). Artikel itu ditulis oleh dua pakar pendidikan anak usia dini, yakni J. Ronald Lally, EdD dan Peter Mangione, PhD, keduanya adalah direktur pada Center for Child and Family Studies di WestEd, California.

 Introduksi Volume 72 No. 2 Young Children di situs NAEYC

“Dari semua yang sudah diajarkan oleh neurosains kepada kita dalam 30 tahun terakhir ini, salah satu temuan yang paling jelas adalah bahwa perkembangan otak dipengaruhi langsung oleh interaksi sehari-hari bayi dengan para pengasuhnya,” demikian kalimat pembuka artikelnya. Mengutip Shinkoff & Philips (2000), Lally dan Mangione menjelaskan, sebelum kelahiran, semua bayi sesungguhnya sudah membangun suatu harapan atau ekspektasi bahwa orang-orang dewasa akan ada dan peduli pada kebutuhan mereka.

Mulus tidaknya kehidupan bayi di kemudian hari bergantung pada terpenuhi atau tidaknya harapan tersebut.  Jika terpenuhi, otak bayi mengalami kegembiraan dan kesenangan. Interaksi-interaksi yang menyenangkan ini menstimulasi otak, memotivasi bayi untuk berhubungan dengan orang-orang yang mengasuhnnya dengan kepercayaan dan ketenangan.

Sebaliknya, jika ekspektasinya kurang terpenuhi secara memadai, maka mereka pun tidak yakin kebutuhan mereka akan terpenuhi dari hubungan-hubungan dengan orang lain. Dengan kata lain, kepercayaan mereka pada dunia luar pun terhambat. Jika ini terjadi, perkembangan emosi dan sosialnya terganggu. Lalu, karena basis emosional merupakan pondasi untuk semua bentuk pembelajaran lain, maka bayi pun mengalami hambatan dalam perkembangan intelektual dan bahasa.

Periode sampai usia tiga tahun

Periode paling krusial dalam kehidupan itu, sebagaimana diungkapkan oleh neurosains, berlanjut sampai anak mencapai usia tiga tahun, yakni ketika proses penyambungan sel-sel dalam otak mencapai 85 persen. Pengalaman-pengalaman awal bayi dalam hal hubungan dengan orang-orang terdekat itu, entah di rumah atau di lingkungan pendidikan usia dini, membentuk tahap berfungsinya otak di masa depan. Segala informasi yang dikumpulkan dari hubungan-hubungan awal ini merupakan jantung dari proses pembangunan otak yang kaya dan kompleks.

Saat bayi merasakan respons-respons dari para pengasuhnya, otak mulai membentuk ekspektasi tentang bagaimana mereka akan diperlakukan dan bagaimana mereka harus merespons. Misalnya, ketika seorang bayi buang air besar atau menangis, respons-respons konsisten dari orang dewasa yang memberi kenyamanan membantu anak mengantisipasi respons-respons serupa di kemudian hari.

Ketika ekspektasi-ekspektasi  diperkuat oleh pengalaman-pengalaman serupa yang berulang-ulang, otak bayi mengkonstruksi persepsi dunia sosial dan emosional tempat dia tinggal. Persepsi-persepsi itu memengaruhi bagaimana bayi memahami lingkungan mereka, berhubungan dengan orang lain, dan terlibat dalam pembelajaran.

Ketika pengalaman-pengalaman itu terutama positif, anak mempersepsi perilaku dan pesan-pesan dari orang lain dengan cara positif dan termotivasi untuk menjelajah lebih banyak dunia (termasuk orang-orang dan benda-benda). Ketika bayi mengalami hal-hal tidak menyenangkan berulang-ulang, mereka pun berekspektasi perilaku dan pesan-pesan dari orang lain menjadi negatif, dan mereka mulai mempersepsi pengalaman-pengalaman baru dengan orang-orang lain dengan cara negatif.

Kemampuan bayi menghadapi stress

Positif atau negatif, sebagaimana dijelaskan Lally dan Mangione, semua-hubungan awal yang dialami bayi berdampak pada mampu tidaknya bayi mengatasi stress. “Sejak kelahiran sampai usia 3 tahun, stress dapat meninggalkan pengaruh yang sangat buruk pada perkembangan otak,” demikian tulis kedua pakar itu mengutip NRC & IOM (2009).

Ketika bayi mendapat pengalaman hubungan awal yang positif, ia mengembangkan rasa aman secara emosional dalam dirinya dengan para pengasuhya. Ini menjadi bekal penahan stress pada berbagai tingkatan intensitas. Jika stress parah dan terus menerus, ia menjadi beracun dan penahan emosional yang disediakan oleh hubungan menjadi sangat krusial (Center on the Developing Child 2007).
Ketika anak-anak harus mengatasi stress yang tolerable (kurang intensif dan temporer), hubungan-hubungan emosional aman membantu anak meregulasi respons dan, ketika stress reda, fokus kembali pada penjelajahan dan pembelajaran.

“Apa yang sudah kita pelajari dari riset otak dalam 30 tahun terakhir ini adalah bahwa pengasuhan yang lembuh penuh cinta yang diserukan oleh para ahli pendidikan usia dini selama beberapa dekade tidak hanya merupakan cara yang baik dalam memperlakukan anak, tapi itu bagian krusial dari perkembangan awal otak.

Jadi, sebelum masuk Sekolah Dasar, anak membutuhkan pendidikan yang jauh lebih mendasar sejak berada dalam buaian sang ibu. Maka, Sekolah Dasar sesungguhnya bukanlah awal dari pendidikan dasar. Pendidikan Dasar yang lebih mendasar adalah periode prasekolah, yang karenanya para ahli menyebutnya sebagai periode usia emas (golden ages).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *