Fungsi Mainan Anak

Dunia anak dunia bermain, masa kanak-kanak masa punya banyak mainan. Ya, karena setiap orangtua selalu tergugah untuk menyediakan mainan anak sebagai wujud cinta kepadah sang buah hati. Namun, meskipun anak belajar melalui bermain, tak semua mainan punya nilai edukatif bagi anak. Karena itu orangtua perlu bijak dalam memilihkan mainan untuk putera-puteri tersayang.

Mainan edukatif adalah mainan yang dengannya bisa diharapkan membantu anak menumbuh-kembangkan kemampuannya, baik dari segi fisik maupun mental. Mainan edukatif bukan mainan yang hanya bertujuan sekadar membuat anak senang atau bergembira. Namun, jika orangtua memiliki pengetahuan yang cukup, mainan edukatif bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan sekaligus mendidik.

Apa saja yang perlu diperhatikan sebelum pergi ke toko mainan untuk memilih mainan buat anak? Berikut ini saya paparkan enam hal yang patut menjadi bahan pertimbangan.

Anak-anak dan Mainan Edukatif

 

#1 Kebutuhan dan Jenis Main

Para ahli pendidikan anak usia dini mengelompokkan kebutuhan main yang muncul secara alamiah pada anak ke dalam tiga jenis, yaitu main sensorimotor, main pembangunan, dan main peran. (Silakan baca artikel sebelumnya) Dari ketiga jenis main yang dibutuhkan anak itulah kita bisa menentukan mainan apa yang akan kita pilih.

Dengan itu pula, berarti, kita bisa mengetahui fungsi, tujuan dan manfaat dari mainan yang kita beli. Misalnya, untuk jenis main sensorimotor, yang bertujuan menguatkan otot motorik kasar bayi, balok susun yang terbuat dari kain bisa berguna. Untuk anak toddler (usia 1 smapai tiga tahun), mainan yang dtujukan untuk jenis main yang sama tentu berbeda-beda. Namun, sering untuk kebutuhan main sensorimotor, orangtua sebetulnya tidak perlu membeli mainan. Cukup membuat sendiri bahan seperti playdough, ublek, atau tanah lempung (buat anak-anak yang hidup di desa).

Untuk jenis main pembangunan (seperti yang ada di Sentra Persiapan dalam sekolah dengan model pembelajaran Metode Sentra), anak antara lain membutuhkan mainan ronce agar kemampuannya mengklasfikasi bentuk-warna-ukuran terbangun. Untuk jenis main peran, yang bertujuan membantu anak mengenal peran-peran kehidupan dan bagaimana menempatkan diri dalam kehidupan nyata, bermacam-macam mainan bisa berguna, misalnya boneka bayi, buah dan sayur dari plastik, telepon, dan lain-lain.

Intinya, orangtua perlu jenis main apa yang ingin dicukupi kebutuhannya, agar mainan yang dibeli membawa manfaat optimal bagi tumbuh-kembang anak.

#2 Tahap Perkembangan Anak

Jelas, ya, tahapan usia anak menentukan apa mainan yang dibutuhkannya. Anak usia dua tahun tentu kurang aman jika bermain balok unit standar yang terbuat dari kayu. Kepadanya bisa disediakan alat balok susun dari bahan yang lebih aman. Jumlah potongan puzzle untuk anak usia tiga tahun tentu harus lebih sedikit dari puzzle untuk anak usia lima tahun. Jika tidak demikian, anak menjadi bosan jika tantangannya terlalu mudah atau frustrasi jika tantangannya terlalu sulit.

Karena itu, walaupun tidak harus kuliah psikologi, orangtua dan calon orangtua sebetulnya wajib mempelajari tahap-tahap perkembangan anak. Sebab, usia dini adalah periode emas yang tak akan terulang lagi. Pergi ke kota butuh peta (pengetahuan), dan kalau salah belok bisa bertanya. Tapi, salah didik anak usia dini akan membawa efek panjang bagi kehidupannya kelak di masa dewasa.

#3 Produsen Mainan

Ini penting bagi orangtua. Pertama-tama soal keamanan. Pastikan mainan yang dibeli memenuhi standar keamanan, tidak mengandung bahan berbahaya, dan desainnya tidak membahayakan.

Selain itu perhatikan reputasinya dalam hal menciptakan mainan yang punya manfaat bagi edukasi. Jangan sampai, putera-puteri kita hanya menjadi objek industri mainan yang selalu berusaha mendikte mainan seperti apa yang harus dibeli anak di seluruh penjuru dunia. Asal tahu saja, dengan kecanggihan menciptakan trend, industri mainan di dunia ini adalah bisnis raksasa dengan nilai $87,4 miliar setahun. (Silakan kalikan sendiri, 1 dolar = 13 ribuan).

Ingat, walaupun industri mainan terus bergerak cepat dengan desain-desain baru, kebutuhan jenis main anak tidak berubah sampai akhir zaman. Hanya tiga itu: main sensorimotor, main pembangunan, dan main peran.

#4 Kapan Saatnya Membeli Mainan

Coba perhitungkan apakah memang sudah saatnya menambah koleksi mainan anak? Sebab, jangan sampai penambahan jumlah mainan hanya menambah komplikasi kesulitan anak dalam belajar untuk tertib.

Anak usia dini tidak hanya butuh mainan edukatif, tapi juga pada akhir periode prasekolah, ia harus mampu melakukan suatu pekerjaan secara berurutan, mengikuti prosedur dan tuntas. Kemampuan itu mencakup kamampuan klasifikasi, menata dan merapikan mainan atau beres-beres. Jika kemampuan ini tidak terbangun dengan baik pada periode usia dini, maka akan tercipta lubang yang terbawa sampai usia dewasa.

#5 Kualitas Mainan

Walau tidak mutlak untuk semua jenis mainan, kualitas juga patut dipertimbangkan. Misalnya, dalam hal balok unit yang dibutuhkan untuk main pembangunan. Ada produk yang ditawarkan dengan harga murah tapi dengan kualitas pengerjaan yang kurang memadai sehingga unit-unit baloknya memiliki presisi. Padahal, untuk memenuhi tujuan bermain balok unit yang standar, presisi adalah unsur mutlak.

Atau dalam mainan ronce. Ada juga yang menawarkan ronce dengan hanya variabel terbatas. Jika yang diharapkan adalah kemampuan klasifikasi warna-bentuk-ukuran, maka ketiga variabel itu harus tersedia dalam jumlah yang cukup dalam satu set. Misalnya: bentuk segitiga ukuran kecil berwarna hijau berjumlah sekian; bentuk bulat ukuran sedang berwarna kuning berjumlah sekian; dan seterusnya dan seterusnya.

#6 Cara Memainkannya

Membeli mainan tanpa tahu manfaat dan tujuan yang hendak dicapai anak dari mainan itu berarti rela  membiarkan anak menjadi objek industri mainan. Karena itu, sangat penting bagi orangtua untuk mengetahui apa tujuan dan manfaat yang didapat dari maianan, jenis main apa yang ingin dipenuhi kebutuhannya, dan yang lebih penting lagi bagaimana cara orangtua mendampingi anak saat memainkan mainan itu. Jadi, selain pengetahuan tentang jenis main dan mainannya, orangtua pun harus tahu bagaimana cara berkomunikasi yang benar dengan anak.

Selamat membeli mainan edukatif.

2 thoughts on “Cara Bijak Memilih Mainan Anak”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *