Asupan Bahasa Sejak Bayi

Jarang orang menyadari pentingnya pembangunan kemampuan berbahasa anak sejak dini. Malah, dalam kehidupan sehari-hari, banyak orangtua ceroboh dalam berbahasa, baik saat berkomunikasi dengan anak di bawah lima tahun (balita), atau saat berbicara kepada orang lain yang didengar oleh bayi. Banyak juga yang terlalu sedikit memberi asupan bahasa, alias “pelit” berbahasa kepada anak balita.

Padahal, bahasa adalah unsur pokok kecerdasan anak. Atau dengan kata lain, bahasa adalah bagian inti jika kita bicara tentang bagaimana cara mendidik anak yang baik. Kemampuan bahasa melekat pada kapasitas daya berpikir. Bahasa pula yang menjadi sarana paling penting bagi terciptanya sambungan-sambungan antarsel otak anak. Perlu diketahui bahwa saat lahir, anak dibekali oleh Sang Pencipta dengan otak yang jumlah selnya (neuron) mencapai sekitar 100 miliar. Namun, sebagian besar sel-sel itu (83 persen) tidak tersambung satu dengan lainnya.

Lalu, apa yang menyebabkan terjadinya penyambungan antarsel otak? Sambungan antarsel otak tercipta dari stimulus yang diterima bayi melalui pancainderanya. Nah, di antara kelima alat indera itu, penerima asupan yang paling dominan tentulah indera pendengaran. Suara ibu, suara ayah, suara anggota keluarga di rumah… itulah menu pertama pencerdasan anak.

Bahasa dan Proses Pertumbuhan Otak

Bahasa! Karena itu, paparan bahasa (language exposure) pada anak usia dini merupakan unsur kritis bagi perkembangan otak pada periode bayi. Ketika anak mendapat paparan berbahasa yang memadai pada usia dini, maka ia menjalani proses instalasi daya berpikir di dalam otaknya.
Mari perhatikan penjelasan dalam infografis di bawah ini:

Tonggak-tonggak Penting dalam Perkembangan Otak

(Pembentukan Synaps Menurut Usia)

Pembentukan synaps yang bertanggungjawab pada kemampuan bahasa mencapai puncaknya pada sekitar usia satu tahun sampai dua tahun, lalu mulai menurun pada usia lima tahun. Sedangkan synaps untuk fungsi kogintif tinggi, yang juga dimulai sebelum kelahiran masih terus berlangsung sampai usia sekitar 16 tahun. Yang dimaksud fungsi kognitif tinggi adalah bentuk-bentuk proses belajar dan memori yang lebih rumit, termasuk tentang kesadaran diri, pengambilan keputusan, daya nalar kritis dan lain-lain.

Lalu perhatikan keterangan pada gambar di bawah ini:

Pada gambar itu diterangkan, saat usia anak mencapai tiga tahun, 85 persen koneksi-koneksi neural atau sambungan penghubung antarsel sudah selesai. Sisanya, 15 persen diperkirakan tuntas pada usia sekitar 16 tahun. Namun, sebagian besar dari sisa itu sudah selesai pada usia tujuh tahun. Bayangkan, hanya 15 persen yang dibangun setelah periode usia tiga tahun!

Berkaitan dengan periode krusial itu, Departemen Kesehatan Amerika Serikat menekankan pentingnya paparan bahasa pada tiga tahun pertama kehidupan anak. Bagaimana caranya? Departemen Pendidikan pun menerbitkan pamflet yang berisi 9 nasihat bagi para orangtua anak usia dini untuk mengoptimalkan kemampuan berbahasa anak. Optimalisasi kemampuan berbahasa itu terkait langsung dengan proses pemasangan “kabel-kabel” penghubung antar sel otak (brain-wiring) yang tak akan terulang lagi kesempatannya setelah melewati masa kanak-kanak.

Sembilan Cara Membangun Kemampuan Bahasa Balita:

  1. Bicaralah pada anak saat aktivitas rutin. Mengganti popok, mandi, makan dan kegiatan harian lainnya, semua adalah momen pembelajaran (teachable moments).
  2. Sediakan lingkungan stimulasi dengan kesempatan bagi bayi untuk mengembangkan semua inderanya –melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan mengecap.
  3. Seringlah memegang dan menyentuh bayi.
  4. Nyanyikan lagu, bacakan buku untuk bayi. Tunjuk ke gambar dan warna saat membaca, sekalipun ia belum bisa berbicara.
  5. Gunakan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan waktu sekarang, yang lalu, dan yang akan datang (hari ini, besok, sebelum, sesudah, selanjutnya).
  6. Dorong anak untuk memilah dan mencocokkan benda-benda saat tugas-tugas rutin. (Gunakan petunjuk seperti “Ke arah mana persimpangan menuju?”)
  7. Bicaralah tentang urutan peristiwa; katakan apa yang terjadi selanjutnya.
  8. Dorong anak memerankan cerita-cerita dari buku, menggunakan imajinasinya dan suara-suara yang berbeda untuk setiap karakter.
  9. Jadwalkan kunjungan ke perpustakaan, kebun binatang dan acara-acara khusus.

Dari 9 cara yang dinasihatkan Departemen Pendidikan Amerika Serikat tersebut kita tahu bahwa berbicara kepada bayi itu penting, walaupun bayi belum bicara berbicara. Bahkan, berbicara dengan bayi sudah bisa dimulai sebelum ia terlahir ke dunia. Sebab, ketika usia kehamilan memasuki pekan ke-25, fungsi-fungsi pendengaran pada janin sudah mulai bekerja.

Pendidikan Usia Dini dengan Metode Sentra

Bagaimana kalau periode usia tiga tahun sudah lewat? Anak sudah saatnya masuk TK? Tidak apa-apa, tapi tidak seideal kalau kemampuan berbahasa dibangun sejak lahir, bahkan sejak dalam kandungan. Mulailah memburu informasi apakah TK atau RA atau PAUD yang dituju sudah menerapkan Metode Sentra secara konsisten. Sebab, Metode Sentra menjadikan bahasa sebagai elemen dasar, sehingga bahasa yang digunakan adalah bahasa berstruktur baik dan benar, dengan pengujaran yang benar. Hal ini akan sangat berarti dalam rangka mengisi “kesempatan 15%” yang masih tersisa.

Sekali lagi, kesempatan lebih besar dalam berinvestasi untuk kecerdasan anak ada di rumah, yakni, sebagaimana dinasihatkan Departemen Pendidikan AS di atas, perbanyaklah paparan bahasa bagi anak. Sedapat mungkin artikulasikan setiap hal yang kita lakukan saat bersama bayi. Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Masalah paparan bahasa ini menjadi pokok perhatian serius para ahli karena terjadinya gap antara anak-anak dari keluarga miskin dan kaya. Pada tahun 2013, kota Providence, Negara Bagian Rhode Island, Amerika Serikat, memulai sebuah program yang diberi nama Providence Talks. Relawan dikerahkan untuk mendatangi keluarga-keluarga miskin yang punya anak balita. Tugas mereka adalah memotivasi dan membimbing para orangtua agar memperbanyak paparan berbahasa kepada anak usia dini mereka.

Program ini dibuat berdasarkan hasil sejumlah penelitian yang menunjukkan adanya korelasi positif antara rendahnya asupan bahasa anak-anak dini keluarga miskin dan rendahnya prestasi akademis mereka di usia sekolah.

Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih terperinci tentang betapa krusialnya arti pembangunan kemampuan bahasa pada usia dini, dan bagaimana pedoman praktiknya, silakan baca buku Bahasa Mencerdaskan Bangsa. Buku ini merupakan himpunan contoh-contoh praktik guru Metode Sentra dalam berbahasa dengan anak. Dengan bahasa yang positif, terstruktur, dan pengucapan yang yang jelas, anak mendapat kesempatan untuk membangun kecerdasan. Selamat berinvestasi demi masa depan anak!

Buku Bahasa Mencerdaskan Bangsa

 

One thought on “9 Cara Membangun Kemampuan Berbahasa Balita”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *