Pondasi Pendidikan Karakter di Usia Dini

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah pondasi pendidikan karakter. Jika pondasi kokoh, maka seluruh unsur dan struktur bangunan di atasnya memiliki pijakan yang kuat. Sebaliknya, jika pondasinya rapuh, maka betapapun bagusnya pendidikan setelah periode usia dini, bangunan pendidikan karakter itu mudah runtuh. Nah, berbicara tentang pondasi pendidikan di usia dini tak bisa lepas dari masalah bagaimana mencukupi kebutuhan dasar anak usia dini, yaitu kebutuhan bermain.

Mari mulai pembahasan ini dengan sebuah pertanyaan: apa sih sebetulnya yang terjadi pada seorang anak usia dini saat ia bermain? Ini pertanyaan penting karena bermain adalah bagian dasar dalam kehidupan anak usia dini. Dari bentuk yang paling sederhana, seperti meraba, memegang dan merasakan tekstur benda, sampai bentuk yang “canggih” seperti bermain lego atau balok unit. Semua itu pada hakikatnya aktivitas yang berperan dalam membantu anak tumbuh dan berkembang.

Ya, tentu tak sulit untuk memahami bahwa ada begitu banyak hal yang berlangsung pada anak usia dini saat ia bermain. Anak usia dini bermain untuk mengenal benda. Anak usia dini bermain untuk membangun kekuatan fisik. Anak usia dini bermain untuk membangun kemampuan sosial dan emosionalnya. Dan, tentu saja, anak usia dini juga bermain untuk menemukan pengetahuan.

Belajar Melalui Bermain

Itu sebabnya ada ungkapan anak usia dini belajar melalui bermain. Sebab, bermain pada hakikatnya menyebabkan anak usia dini menjalani proses belajar banyak hal, baik secara fisik, emosional maupun intelektual. Ungkapan ini sangat jauh beda maknanya dengan bermain sambil belajar maupun belajar sambil bermain.

Perbedaannya begini: kalau bermain sambil belajar, berarti anak tidak sedang belajar. Batas tertingginya hanya sampai “syukur-syukur” ada yang dipelajari anak saat bermain. Belajar sambil bermain berarti anak memang belajar, bermainnya menjadi sambilan. Kedua ungkapan itu menempatkan bermain dan belajar sebagai dua hal yang terpisah.

Sebaliknya, belajar melalui bermain berarti anak sedang belajar dengan cara bermain. Belajar dan bermain menjadi satu kesatuan proses, sehingga tidak berlaku pembagian mana yang lebih penting di antara keduanya. Sebab, kedua hal itu hakikatnya adalah satu.

Nah, karena pendidikan adalah sesuatu yang diusahakan secara sengaja, maka pendikan anak usia dini adalah masalah membantu anak usia dini belajar. Anak-anak usia dini membutuhkan orangtua, guru atau siapa saja orang dewasa yang menemani mereka punya rencana dan program. Agar semua kegiatan, termasuk bermain, bermakna bagi tumbuh-kembang mereka.

Untuk itulah Metode Sentra ada. Metode Sentra memandang seluruh aktivitas anak-anak dari bangun tidur sampai mau tidur lagi adalah proses belajar. Itu artinya, orangtua, guru atau siapapun orang dewasa yang mendampingi anak usia dini harus tahu hal-hal dasar menyangkut proses dan cara anak usia dini belajar. Itulah inti dari pendidikan anak usia dini (PAUD).

Cakupannya sangat luas. Namun, Metode Sentra menyediakan panduan yang sederhana bagi para orangtua dan guru anak usia dini (juga calon ibu-ayah dan calon pengantin). Panduan itu meliputi lima hal dasar dalam pendidikan anak usia dini.

#1 Kebutuhan Bermain

Bermain sebagai cara atau moda belajar anak usia dini sudah menjadi pokok pembicaraan para ahli, bahkan sejak zaman klasik Yunani. Karena itu, kalau ada orangtua anak usia dini yang masih bicara menegur anak usia dini, “Bermain terus? Ayo belajar!” berarti ia belum tahu hakikat bermain bagi anak usia dini. Bermain adalah kehidupan anak usia dini.Yang dibutuhkan anak usia dini dari orangtua dan guru adalah arahan bermain yang bagaimana yang belajar.

Peneliti anak usia dini, Sara Smilansky, membagi bermain yang belajar bagi anak usia dini menjadi tiga jenis: yaitu bermain sensorimotor, bermain pembangunan, dan bermain peran. Sensori secara harfiah berarti yang berhubungan dengan indera dan motor berhubungan dengan gerak. Arti sederhananya, bermain sensorimotor adalah bermain yang mengaktifkan indera dan menguatkan fungsi-fungsi gerak tubuh, pengendalian serta koordinasi gerak.

Contoh: menyentuh, meraba, memukul, menekan dan lain-lain. Anak bermain air dengan alat hand-pump adalah contoh main sensorimotor. Anak bermain menggunting kertas, menyetrika baju, mengaduk atau mengocok busa sabun, finger painting juga masuk ke dalam kategori jenis main sensorimotor.

Bermain pembangunan (constructive play) berarti anak memanfaatkan bahan dan alat untuk mengekspresikan daya berpikir dan daya imajinasinya. Melukis, menggambar, main puzzle, main halma, tangram, balok unit, ronce dan lain-lain adalah contoh main pembangunan.

Sama seperti bermain sensorimotor dan bermin pembangunan, dorongan untuk bermain peran juga muncul secara alamiah pada setiap anak. Dalam bermain peran, dengan pengetahuan dan pemahaman yang sudah dicapainya, anak berusaha mencoba peran-peran dalam kehidupan nyata. Bermain menjadi ibu, menjadi ayah, menjadi dokter, menjadi pedagang, menjadi petani, menjadi pilot, menjadi sopir bus…. apa saja. Dokter-dokteran atau mamah-mamahan, sangat umum, bukan?

Semua kebutuhan bermain itu oleh Metode Sentra dicobapenuhi dan difasilitasi dengan rencana dan program. Agar semua asepk tumbuh-kembang anak berproses dengan lancar dan optimal sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. Ya tahap perkembangan adalah hal penting kedua dalam PAUD.

Anak usia dini bermain di Sentra Bahan Alam di TK Batutis Al-Ilmi

#2 Tahap Perkembangan Anak

Ibarat bepergian ke sebuah kota, mendidik anak usia dini juga memerlukan peta agar sampai ke tujuan. Hanya saja, kalau salah belok dalam bepergian bisa dibetulkan dengan bertanya. Tapi, salah langkah dalam mendidik anak usia dini bisa berakibat permanen, karena berurusan dengan instalasi kemampuan mental, baik daya nalar-kognitif maupun emosional-psikologis.

Sekurang-kurangnya, belajar teori perkembangan psikologis dan teori perkembangan kognitif adalah bekal yang krusial bagi pasangan calon pengantin jika kelak ingin memahami bagaimana mendidik anak. Selain itu, belajar tentang tahap-tahap perkembangan otak (neurosains) sejak bayi dalam kandungan sampai usia tujuh tahun tak boleh diabaikan.

Secara global, pengetahuan ini ada dalam ilmu Psikologi, khususnya Psikologi Perkembangan. Namun, terkait erat dengan ini, para calon orangtua perlu juga belajar bagian-bagian tertentu dari psikologi kognitif, termasuk salah satunya teori kecerdasan jamak atau multiple intelligences.

Dengan pengetahuan itu, orangtua tahu cara yang tepat berinteraksi dengan anak. Di dalamnya, orangtua pun harus memahami cara berkomunikasi yang benar dengan anak,yang berarti kemampuan berbahasa. Sebab, bahasa orangtua adalah salah satu faktor utama penentu kecerdasan anak. Ya, bahasa adalah hal penting ketiga dalam PAUD.

#3 Bahasa yang Baik dan Benar

Sejak usia kehamilan memasuki pekan ke-25, fungsi-fungsi indera pendengaran calon bayi sudah mulai bekerja. Ia sudah bisa mendengarkan, terutama suara-suara ibu dan orang-orang terdekatnya. Bahasa yang baik dan tersusun dengan baik akan diserap anak sebagai bekal penting sebelum lahir.

Jadi, bukan mengada-ada kalau para ahli menasihatkan untuk berbicara kepada calon bayi yang masih ada dalam kandungan. Bagi ibu yang beragama Islam, sangat dianjurkan untuk banyak-banyak membaca Al-Qur’an selama masa kehamilan, karena bunyi-bunyi pelafalan ayat Al-Qur’an juga terserap.

Masa kelahiran sampai bayi berusia dua tahun adalah periode paling krusial bagi anak dalam menyerap pola bahasa ibu (mother tongue). Pada periode inilah anak menginstal bagian terbesar dari kemampuan menyerap struktur bahasa. Proses penyerapan ini, menurut para ahli mulai melambat pada usia lima tahun dan berhenti kira-kira pada usia sembilan tahun. Maka, stimulus bahasa yang kaya, positif, artikulasi jelas, dan berstruktur rapi adalah bagian membangun struktur otak yang kaya, positif, jelas dan berstruktur rapi.

Jika otak kaya dan rapi sejak dini, maka bukan hanya anak memiliki bekal kemampuan belajar yang tinggi, melainkan perilaku dan sikapnya juga ikut rapi. Jadi, hal penting keempat dalam PAUD adalah membangun sikap.

[Baca juga artikel terkait: 9 Cara Membangun Kemampuan Berbahasa Balita]

#4 Membangun Sikap

Sering orangtua mengeluh, misalnya, ‘kenapa, ya, anak saya sulit diatur?’ Dalam hal ini perlu diingat nasihat para ahli pendidikan bahwa tidak ada anak yang bodoh dan tidak anak yang nakal. Yang ada adalah anak yang belum tahu. Tugas orangtua dan gurulah yang memberitahu anak.

Caranya? ya cara yang benar dalam membangun mental dan sikap. Percuma, misalnya, berbusa-busa menyuruh anak bertanggungjawab merapikan mainan, sedangkan anak tidak pernah diberi kesempatan belajar untuk bertanggungjawab. Setelah selesai bermain, dan anak meninggalkan mainan dalam keadaan berantakan, lalu ibu bertindak sebagai “tukang sulap”. Simsalabim, ketika anak datang lagi ke tempat ia bermain, ‘oh, ternyata mainan bisa rapi sendiri.’ Anak tidak pernah tahu dan merasa perlu tahu bahwa mainan yang berantakan memerlukan orang yang merapikan.

Hal itu, yakni pembelajaran mental dengan proses-proses sesuai tahapan, berlaku pada semua unsur pembangunan sikap. Disiplin, jujur, rajin, peduli, istiqamah, sabar, …. apa saja, semuanya memerlukan proses pembelajaran dan pembangunan dalam situasi nyata, bukan seperti pencet tombol atau voice dialing pada telepon pintar.

Sebetulnya, cukup empat hal itu yang pokok untuk dipersiapkan sebagai bekal oleh para calon orangtua dan guru anak usia dini. Masalahnya, keempat hal tersebut mencakup disiplin ilmu yang banyak dan luas. Kabar baiknya adalah Metode Sentra sudah menyediakan panduan langkah-langkah yang praktis dan efektif untuk belajar menjadi orangtua dan guru anak usia dini. Maka, pada artikel ini disertakan pula sebagai hal kelima yang penting dalam PAUD, yakni pelatihan Metode Sentra.

#5 Pelatihan Metode Sentra

Jangan membayangkan pelatihan Metode Sentra adalah mendengarkan ceramah berjam-jam pakar pedagogi, psikologi, neurosains, manajemen pendidikan, ahli agama atau yang lain-lain. Tidak. Pelatihan Metode Sentra, sebagaimana dijalankan dalam tiga modul di Sekolah Batutis Al-Ilmi di Pekayon Bekasi, adalah acara lima hari mengajak peserta membaca teori-teori serta hasil-hasil kajian yang sudah baku di bidang pendidikan dan psikologi, dalam rupa nyata keseharian anak-anak.

Jadi, dalam pelatihan itu para peserta justru yang aktif mencari, menemukan dan merefleksi teori-teori serta hasil-hasil kajian para ilmuwan. Dari proses pencarian itu, dengan bimbingan para fasilitator  atau trainer, para peserta menyusun rencana dan program yang tepat untuk dipraktikkan dalam kehidupan nyata sepulang dari pelatihan.

Yang lebih penting, setelah mengikuti tiga modul pelatihan (satu modul satu pekan), para peserta pun sudah memiliki panduan untuk belajar lebih jauh dan lebih dalam lagi tentang apa yang mesti dipelajari oleh orangtua dan guru anak usia dini. Memang bukan kuliah dalam skala akademis yang sibuk penuh tugas demi memburu poin SKS. Tapi, niscaya poinnya akan benar-benar terasa pada anak-anak usia dini yang mereka asuh.[]

Para peserta Pelatihan Metode Sentra di Sekolah Batutis Al-Ilmi Pekayon Bekasi

 

One thought on “5 Hal Pokok dalam Pendidikan Anak Usia Dini”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *