Menuju Ibadah Puasa yang Bermakna

Melatih anak berpuasa memang bukan perkara mudah. Perlu proses dan cara yang tepat agar anak bukan hanya sekadar sanggup tak makan-minum seharian, melainkan juga mampu menunaikan ibadah mulia itu secara bermakna.

Sebelum membahas bagaimana langkah-langkah melatih anak berpuasa, ada baiknya kita coba menyelami dari dalam diri kita, dari sisi perasaan orang yang berpuasa. Dengan begitu (semoga), kita bisa menemukan cara yang paling tepat bagaimana melatihkannya pada anak. Bagaimanapun, satu cara yang efektif pada seorang anak, belum tentu efektif bagi anak yang lain. Namun, tentu ada hal-hal yang bersifat umum yang bisa dijadikan rujukan.

Mari renungkan hal berikut ini:

Saat pertama kali anak mampu berpuasa di bulan suci Ramadhan, sungguh sesuatu yang sangat membahagiakan bagi orangtua. Namun, yang jauh lebih berbahagia sesungguhnya adalah anak itu sendiri. Mengapa? Karena setiap prestasi, keberhasilan mencapai sesuatu yang diperjuangkan dengan berat, adalah kebahagiaan yang sejati. Termasuk berpuasa, yang membutuhkan proses panjang latihan fisik dan mental, tahap demi tahap, sampai anak benar-benar sanggup berpuasa.

Kebahagiaan atas pencapaian itu pun sudah digambarkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw. Ada dua macam kebahagiaan yang didapat orang yang berpuasa, yakni kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Rabb-nya. Sebagaimana sifat ibadah puasa yang mencakup dimensi fisik dan mental, kebahagiaan bagi orang yang melakukannya pun mencakup fisik dan mental, termasuk bagi anak-anak.

Maka, cara melatih berpuasa pun harus mencakup fisik dan mental. Raga atau jasmani saja yang sanggup, tapi kalau mentalnya tidak, bahkan orang dewasa pun tidak sanggup berpuasa. Pun sebaliknya, kalau hanya mentalnya yang sanggup tapi raganya tidak memungkinkan, orang tidak mampu berpuasa. Itulah pijakan yang perlu dipertimbangkan dalam hal bagaimana melatih anak agar mampu berpuasa. Sehingga, setiap langkah yang kita tempuh dalam proses melatih anak berpuasa harus mencakup kedua hal tersebut: fisik dan mental (jasmani dan ruhani).

1# Tanamkan Pemahaman tentang Arti Puasa

Jika anak usia dini memahami sesuatu yang perlu dia lakukan, maka dia akan melakukannya dengan senang hati. Karena itu, pijakan pertama menuju latihan berpuasa adalah pemahaman. Walaupun anak belum sanggup berpuasa, pemahaman tentang arti puasa sudah bisa ditanamkan pada anak.

Jadi teringat, ya, lirik dalam lagu Bimbo, “Ada anak bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar-lapar puasa?” Wah, jika anak bertanya seperti itu, atau mengajukan pertanyaan yang semacam dengan itu, maka itu adalah momen yang sangat istimewa untuk menanamkan pemahaman tentang arti puasa.

Itu namanya curiosity, keingintahuan. Dalam pertanyaan itu jelas ada minat, ada ketertarikan. Maka, manfaatkanlah momentum itu dengan sebaik-baiknya. Jelaskan selengkap mungkin (bukan sepanjang mungkin, ya) arti puasa dengan bahasa yang bisa dijangkau oleh daya pemahaman anak. Penjelasannya harus mencakup unsur fisik dan mental berpuasa, dengan menggunakan analogi-analogi yang mudah dicerna, sesuai dengan tahapan usia anak.

Misalnya, anak TK bertanya mengapa ayah tidak makan? “Ya, ayah sedang berpuasa, bertahan tidak makan dan minum dari waktu subuh sampai nanti saat berbuka waktu maghrib.” Untuk apa? Jika anak TK sudah terbiasa dengan pengenalan Tema Tubuh atau Tema Makanan kita bisa jelaskan, misalnya, “Tubuh kita memerlukan istirahat sejenak dari aktivitas mengolah makanan. Saat istirahat itu, tubuh dapat membersihkan diri dari makanan-makanan yang kurang baik yang kita makan selama ini.”

“Begitu juga dengan pikiran kita, yang terus dipakai untuk bekerja atau belajar, perlu disegarkan kembali dengan berpuasa agar bisa terus berpikir positif, dan kembali lancar serta mudah dalam bekerja atau belajar.  Begitu pula, hati kita, yang terkadang sedih, jengkel marah, dibersihkan dan dilatih untuk sabar dan kuat.” Dan seterusnya. Tentu saja pilihan kata disesuaikan dengan tahapan yang terjangkau pada anak. Namun intinya, sedini mungkin berikan pemahaman yang logis kepada anak tentang arti puasa.

Bagaimana jika anak tidak bertanya? Manfaatkan momen-momen yang mengarahkan perhatian anak pada puasa. Ajak anak berdiskusi tentang puasa. Tanyakan apa yang ia ketahui tentang puasa.
Bagi anak yang punya tradisi belajar mengaji rutin seperti di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), momen penanaman pemahaman arti puasa tersedia. Biasanya, menjelang bulan Ramadhan, ada pawai obor anak-anak di pedesaan maupun di kota-kota besar. Namun, di era kecepatan informasi real time seperti sekarang, apa saja mudah didapat, termasuk momen yang dibutuhkan untuk mengarahkan perhatian anak pada puasa. Bisa saat komunikasi silaturahim dengan keluarga jauh, atau  bahkan saat menonton iklan di televisi.

#2 Tumbuhkan dan Hargai Inisiatif untuk Berpuasa

Memotivasi anak untuk berpuasa bisa dilakukan dengan banyak cara. Namun, jika motivasi dialirkan dengan cara yang kurang tepat, kemampuan anak dalam menjalankan ibadah puasa secara bermakna kurang atau tidak memiliki pijakan yang kuat. Contoh yang kurang tepat, seperti yang dialami penulis artikel ini pada ketiga anaknya, adalah dengan iming-iming hadiah. Iming-iming hadiah membuat anak terbiasa melakukan sesuatu lebih karena imbalan, sehingga selalu ada peluang jika iming-iming tidak ada, motivasi berpuasanya pun turun.

Nah, belakangan pada anak bungsu saya (sekarang kelas 2 SD), ada pelajaran yang saya dapatkan bahwa dengan menumbuhkan dan menghargai inisiatif anak untuk berpuasa, maka ia memiliki tanggungjawab atas inisiatif yang dia tentukan. Puasa sampai waktu shalat zhuhur, waktu ashar, sampai Maghrib, kapan atau hari ke berapa mau mencoba puasa? Motivasi anak untuk menentukan.

Misalnya, saat si bungsu sudah berkomitmen dan sudah mampu untuk berpuasa sampai adzan ashar, dan dia coba menawar sampai adzan dzhuhur, saya cukup mengingatkan saja, “Kita sudah sepakat. Insya Allah seperti yang sudah-sudah, Nadin mampu melakukannya.” Tawarkan kepada anak jia memerlukan kegiatan bersama, misalnya jalan-jalan, membaca buku cerita, atau bermain.

#3 Validasi Kesulitan dan Apresiasi Pencapaian Berpuasa

Sebagaimana dalam membangun sikap empati anak, orangtua perlu memvalidasi kesulitan yang dirasakan anak saat berjuang menunaikan ibadah puasa. Memvalidasi berarti kita mengakui bahwa kesulitan yang dirasakan anak memang kesulitan, bukan sesuatu yang sepele dan pantas disepelekan.

Misalnya, saat anak terjatuh, dan kita berusaha menghiburnya, tapi dengan bahasa yang tanpa sadar kita sesungguhnya sedang menyepelekan. Misalnya, “Ah, gitu saja, tidak apa-apa.” Itu bisa berpengaruh negatif pada pertumbuhan sikap empati anak. Dalam keadaan seperti itu, yang dibutuhkan anak adalah pengakuan bahwa apa yang dialaminya memang sakit atau menyakitkan. Itu salah satu pintu bagi anak untuk mampu berempati. (Mudah-mudahan artikel tentang empat segera menyusul).

Begitu juga dengan puasa. Akui betapa beratnya anak berikhtiar menjalankan ibada puasa. Ramadhan tahun lalu, si bungsu baru berhasil melakukan untuk pertama kalinya berpuasa sehari penuh pada hari ke-delapan.  Momen yang membahagiakan setelah berbuka saya gunakan untuk berbicara dengannya. Saya katakan, Alhamdulillah, Nadin akhirnya berhasil. “Berat, ya? Kamu tadinya merasa tidak akan berhasil, kan?” Dia mengangguk.

Saya tanya lagi, “Mengapa Nadin bisa bertahan?” Dan, jawabannya di luar bayangan saya: “Karena Allah memberi kuat Nadin.”

Hanya saja, masih ada embel-embel yang menempel berkat tradisi turun-temurun sejak kedua kakaknya, yaitu iming-iming. Maka, saya berpikir keras bagaimana memberi pijakan yang tepat untuk mulai membebaskan Nadin dari iming-iming. Waktu itu, selain hadiah uang, termasuk dari Mbah Uti dan Mbah Kung, saya janjikan sekotak permen berisi 40 butir.

 

Nadin, setahun yang lalu

Lalu saya katakan, “Nadin hadiah dari bapak dan ibu itu sebetulnya sangat kecil, dan cepat habis.” Dia hitung sendiri, kalau satu hari makan satu butir permen, berarti hanya 40 hari.  “Tapi, ada yang tidak akan habis,” kata saya melanjutkan. “Allah punya hadiah yang jauh lebih banyak, karena Allah sangat suka dengan anak kecil yang sudah berani mencoba berpuasa. Pasti Allah lebih sayang lagi, karena hari ini Nadin bahkan sudah berhasil berpuasa sehari penuh.”

Rupanya, pembicaraan kami didengarkan oleh kakaknya yang waktu itu kelas 5 SD. Dia nyeletuk, “Berpuasa harus ikhlas.” Dan mereka sama-sama menawarkan secara sukarela “penurunan” nilai imbalan material atas berpuasa.

Ya, tradisi keliru iming-iming perlu bertahap untuk dikoreksi. Tapi, sekurang-kurangnya mereka berdua mulai punya alasan yang lebih kuat untuk berpuasa dari sekadar iming-iming materi. Semoga itu dapat menjadi penguatan dalam membangun mental, daya juang, sikap tanggung jawab dan lain-lain.
Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *